RI Resesi, Industri Sepatu Berkali-kali Dihantam PHK Massal

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 05 Nov 2020 14:13 WIB
Pekerja tengah memproduksi sepatu dan sandal di pabrik PT Sepatu Bata Tbk, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (28/5/2015). Menghadapi tahun ajaran baru bagi siswa sekolah dan jelang bulan Ramadhan, Bata memproduksi sekitar 25.000 pasang per harinya untuk memenuhi kebutuhan pasar di seluruh Indonesia. Selain dipasarkan di Indonesia, produk sepatu dan sandal Bata juga diekpor hampir ke 15 Negara. Agung Pambudhy/Detikcom.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi kuartal III-2020 mengalami kontraksi 3,49%. Artinya, Indonesia resmi tenggelam di jurang resesi, setelah kuartal II-2020 juga kontraksi hingga 5,32%.

Keterpurukan ekonomi ini memang sudah terasa pada dunia usaha, salah satunya industri alas kaki atau persepatuan. Tak hanya saat resesi, jauh sebelum Indonesia resmi resesi pun dampak keterpurukan ekonomi dari pandemi virus Corona (COVID-19) sudah menyerang industri persepatuan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan dampak pandemi COVID-19 sampai Indonesia resesi salah satunya adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di pabrik-pabrik sepatu Tanah Air. Misalnya yang baru saja terjadi, PHK terhadap 1.800 karyawan pabrik sepatu di Cikupa, Tangerang.

"Kalau resesi ini dampaknya ke industri sepatu yang bergerak di pasar domestik. Sementara industri alas kaki ada yang pasar ekspor, itu juga mengalami krisis. Walaupun data ekspor meningkat, tapi masih di bawah target kita. Jadi order itu masih belum normal kembali, demand kan mau tidak mau mengalami penurunan, di tingkat global juga. Ya dampaknya salah satunya terjadi PHK pabrik di Tangerang," terang Firman kepada detikcom, Kamis (5/11/2020).

Namun, setiap tahunnya industri sepatu punya momentum pertumbuhan, terutama di perayaan Idul Fitri. Sayangnya, pada saat itu justru industri sepatu kehilangan pasarnya karena saking anjloknya pesanan.

"Bukan hanya drop, hampir hilang pasar Lebaran. Memang ada sedikit pesanan di daerah-daerah yang belum PSBB dan juga pasar online. Tapi itu tidak menolong sama sekali karena produk-produk di pabrik dan retailer itu tidak terserap, bahkan gudang-gudang sampai penuh di Lebaran kemarin," papar Firman.

Memasuki bulan September, ia mengakui ada sedikit pemulihan jumlah pesanan terhadap industri sepatu. Namun, pemulihannya masih merangkak.

"Ketika PSBB dilonggarkan, pasar dalam negeri sudah mulai bergerak, lalu ekspor kita juga sebenarnya September sudah masuk order, tapi jumlahnya masih belum mencukupi, masih kecil dibandingkan kondisi normal. Saya rasa itu kondisinya," tegas Firman.

Selanjutnya
Halaman
1 2