Dijatah 160 Juta Dosis, Vaksin Corona Berbayar Dijual Via Aplikasi

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2020 19:52 WIB
Vaksin virus Corona dari Sinovac dikabarkan siap edar ke seluruh dunia awal 2021. Seperti apa proses pembuatan vaksin yang kini sedang jalani uji klinis itu?
Foto: Getty Images/Kevin Frayer
Jakarta -

Kementerian BUMN tengah menyiapkan 160 juta dosis vaksin COVID-19 yang untuk 75 juta orang Indonesia yang ingin membeli. Nah distribusinya akan dilakukan full secara digital.

Dalam proses distribusi vaksin mandiri ini, Kementerian BUMN mempercayakan ke PT Telkom Indonesia dan PT Bio Farma (Persero). Telkom diikutsertakan untuk mempersiapkan sistem informasi yang terintegrasi secara keseluruhan proses vaksinasi mandiri.

Di samping itu, Telkom juga tengah bertransformasi menjadi perusahaan telko digital.

"Bagaimana sistem sistem ini bekerja, satu, integrasikan data dari berbagai sumber khususnya penerima vaksin. Semisal vaksin lebih sedikit dari jumlah penduduk maka perlu prioritas. Kita perlu diintegrasikan data dari berbagai sumber untuk validitas calon penerima vaksin," kata Direktur Digital Business Telkom Muhammad Fajrin Rasyid dalam konferensi pers virtual, Rabu (18/11/2020).

Sistem yang dibuat untuk menampung data base tentang proses vaksinasi secara nasional. Mulai dari data masyarakat yang divaksinasi hingga ketersediaan dan distribusi vaksin

Selain mengintegrasikan data secara nasional, Telkom juga membuat sistem informasi untuk distribusi vaksin. Nantinya vaksin mandiri akan disertakan barcode yang bisa di-scan untuk mengetahui berbagai informasi tentang vaksin itu.

Tak hanya itu Bio Farma menyiapkan aplikasi untuk proses vaksin mandiri. Nah masyarakat yang ingin membeli vaksin prosesnya secara keseluruhan akan melalui aplikasi ini. Mulai dari pra pemesanan, pembayaran hingga tiket untuk melakukan vaksinasi.

"Order jutaan dalam waktu yang sama kita itu nggak mungkin dilakukan tanpa teknologi. Kita akan melakukan vaksinasi yang jumlahnya sangat besar, 107 juta orang target yang kita punya sekarang. Kalau itu dilakukan secara manual ya potensi untuk terjadi kesalahan, potensi untuk terjadinya error, potensi terlambat dan seterusnya," kata Chief Digital Healthcare Officer Bio Farma Soleh Ayubi.

Aplikasi itu juga bertujuan untuk menutup kemungkinan terjadinya penimbunan vaksin di satu wilayah. Bio Farma akan mengirim pasokan vaksin berdasarkan data pre-order vaksin yang masuk melalui aplikasi.

Masyarakat yang ingin membeli vaksin COVID-19 secara mandiri ini memang akan diharuskan melakukan pre-order di aplikasi. Kemudian akan diinformasikan tempat vaksinasi terdekat. Selain itu pembayaran juga dilakukan melalui aplikasi, kemudian barulah muncul semacam tiket untuk melakukan vaksinasi di tempat yang telah ditentukan.

(das/hns)