Produksi Rendah, Pabrik Diusulkan Tak Dapat Gas Murah US$ 6/MMBTU Lagi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 11 Des 2020 12:52 WIB
Proyek pipa gas transmisi Gresik-Semarang (Gresem) milik Pertagas hampir selesai. Proyek yang mulai sejak Oktober 2014 ini diperkirakan akan selesai pada Maret 2020.
Foto: Danang Sugianto
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan agar harga gas khusus bagi industri yang tak memiliki performa bagus naik menjadi di atas US$ 6 per MMBTU.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam, dalam Oil & Gas Stakeholders Gathering 2020, Rabu (9/12/2020).

Dikatakannya, jika performa tidak bagus, ada perusahaan yang dinaikkan harga gasnya menjadi US$ 6,5 per MMBTU-US$ 7 per MMBTU.

"Kebijakan harga gas sebesar US$ 6 per MMBTU ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi," ujar Khayam.

Dalam Perpres ini disebutkan bahwa penurunan harga gas harus dibarengi dengan peningkatan kontribusi pajak kepada negara. Saat ini pihaknya sedang melakukan verifikasi.

Selain itu, pemerintah juga mendorong industri yang mendapatkan penurunan harga gas untuk melakukan ekspansi. Karena, dari kontribusi pajak dan ekspansi, pemerintah bisa melihat performa perusahaan yang mendapat fasilitas penurunan harga gas.

"Pastinya, industri juga harus lakukan efisiensi," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menetapkan harga gas industri sebesar US$ 6 per MMBTU yang berlaku mulai 1 April 2020.

Sebenarnya, regulasi berupa Perpres 40/2016 sudah ada. Hanya saja, aturan itu tak kunjung direalisasikan dengan alasan mempertimbangkan kemampuan implementasi dari hulu ke hilir.

Berdasarkan keterangan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, sektor industri yang mendapat penurunan harga gas tetap sesuai Perpres 40/2016, yakni pupuk, oleochemical, baja, keramik, petrokimia, kaca dan sarung tangan karet.

(dna/dna)