Bos Bio Farma Buka-bukaan Ketatnya Pengawasan Distribusi Vaksin

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Sabtu, 30 Jan 2021 10:15 WIB
Kemasan vaksin COVID-19 diperlihatkan di Command Center serta Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV), Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/1/2021). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww.
Vaksin COVID-19/Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Jakarta -

Produksi vaksin perlu pengawasan yang ketat. Tidak hanya itu, distribusi juga perlu pengawasan yang ketat agar vaksin COVID-19 tetap berkhasiat seperti diharapkan masyarakat.

"Jadi memang saya pikir apa yang kami lakukan dari sisi produsen ini kan end to end mulai dari mendatangkan bahan baku, memproduksi, didistribusikan karena ini vaksin khusus pandemi memang pendampingannya juga dari BPOM sangat teliti kita terima kasih BPOM banyak hal terobosan dilakukan," kata Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir dalam teleconference, Jumat (29/1/2021).

"Perlu memastikan proses produksi karena vaksinnya pertama kali untuk COVID ini sehingga standar mutu itu juga harus pasti diawasi dengan ketat," tambahnya.

Soal distribusi, dia menuturkan, pihaknya membutuhkan teknologi agar vaksin COVID-19 yang didistribusikan memenuhi standar.

"Selain itu pada saat ia didistribusikan ini juga harus sesuai standar cara distribusi obat yang baik. Makanya Bio Farma dan grup kami Indofarma dan Kimia Farma kita juga membutuhkan dukungan teknologi untuk memastikan bahwa semua vaksin yang diproduksi dan juga dikirim ke titik serahnya, apakah itu di provinsi atau nanti akan diubah langsung fasilitas kesehatan terakhir ini benar-benar memenuhi standar yang ada, yang sudah ditetapkan BPOM," tambahnya.

Menurutnya, standar produksi dan distribusi harus dijaga. Pihaknya tak mau karena masalah distribusi membuat vaksin itu tidak sesuai yang diharapkan masyarakat.

"Ini yang perlu kita jaga terus konsitensinya karena kita nggak mau vaksin yang sudah bagus secara uji klinis bagus, diproduksi dengan standar cara pembuatan obat baik dan benar, tapi karena distribusinya menjadi tidak bermutu, tidak berkhasiat seperti apa yang diharapkan masyarakat," ujarnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2