Tesla Pilih Bikin Pabrik di India, Ini Saran buat Pemerintah

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 23:45 WIB
CEO Tesla Elon Musk melanggar aturan lockdown dengan membuka kembali pabrik Tesla di Fremont, California, AS. Area parkir pabrik Tesla yang penuh dengan mobil baru.
Foto: AP Photo/Ben Margot
Jakarta -

Kepastian Tesla investasi di Indonesia masih tanda tanya. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan saat ini masih berjalan negosiasi dengan produsen mobil listrik Amerika Serikat (AS) itu.

Namun, seperti diberitakan detikcom (18/2/2021), Tesla dikabarkan akan membangun pabrik terbarunya di India. Informasi Tesla akan masuk dan bikin pabrik di India pertama dikeluarkan oleh M B.S. Yediyurappa, kepala menteri negara bagian barat daya Karnataka.

Pemilihan lokasi tersebut sangat beralasan lantaran Bengaluru merupakan tempat di mana banyak pabrikan lain dari seluruh dunia memiliki R&D. Di antaranya adalah Mercedes-Benz, Great Wall Motors, General Motors, Continental, Mahindra & Mahindra, Bosch, Delphi, sampai Volvo.

Bengaluru juga dikenal sebagaoi 'Silicon Valley Asia' atau pusat teknologi informasi India. Bengaluru merupakan kota tempat tinggal banyak orang-orang paling tajir di India. Kenapa Tesla lebih memilih India?

"Ada dua hal mengapa Tesla akhirnya lebih memilih India, pertama adalah soal pajak, di Indonesia meskipun ada keringanan pajak kendaraan listrik, namun buat Tesla iklim pajak di India jauh lebih baik dibandingkan Indonesia," kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad dalam keterangan tertulis yang dikutip detikcom, Rabu (24/2/2021).

Iklim pajak dijelaskan Ahmad tak cuma soal tarif, melainkan soal kemudahan dan birokrasi yang lebih cepat dan mudah. Kedua, industri kendaraan listrik di India telah jauh lebih berkembang dibandingkan di Indonesia, sehingga tenaga kerja di India memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan di Indonesia yang baru memulai pengembangan industri kendaraan listrik.

"Kalau soal SDM (sumber daya manusia) memang cukup butuh waktu panjang untuk pengembangannya, makanya pemerintah mesti menciptakan iklim yang mendukung investasi, pajak yang lebih murah misalnya, karena ini bukan cuma jadi kendala Tesla, sejumlah perusahaan asal Jepang juga sering mengeluhkan hal ini," ucapnya.

Hal senada diungkapkan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Menurutnya, selain Tesla masih banyak rencana investasi asing yang berminat masuk ke Indonesia, namun masih ragu dan memiliki banyak pertimbangan salah satunya mengenai perpajakan.

"Memang betul Indonesia sudah memiliki tax holiday, tetapi tidak banyak yang memanfaatkannya dengan berbagai faktor. Salah satunya karena insentif pajak tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan investor. Jika dilihat, investor yang berkomitmen untuk berinvestasi datang dari berbagai jenis industri sehingga tidak bisa dipukul rata," jelasnya.

Itu sebabnya, pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan pemberian insentif berdasarkan kebutuhan industri yang akan dibidik oleh investor. Tentu, ini membutuhkan usaha yang lebih besar untuk menghitung kebutuhan insentif tiap sektor dan berapa lama imbal hasil masing-masing sektor.

"Ini saja dilakukan dalam rangka menarik investasi untuk mendorong masing-masing industri," kata Yusuf.

Tonton juga Video "Tesla Akan Buka Pabrik di Indonesia":

[Gambas:Video 20detik]



(aid/hns)