Bangun Pabrik Ke-3 di Sragen, Blesscon Siap Suplai Bata Ringan Jateng

Nurcholis Maarif - detikFinance
Rabu, 24 Mar 2021 07:32 WIB
Apersi
Foto: Blesscon
Jakarta -

Sinergi dari berbagai stakeholder disebut menjadi kunci dalam mengejar target nasional 1,2 juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kebijakan-kebijakan pemerintah dan perbankan diharapkan membantu pengembang yang mengerjakan rumah-rumah sederhana sehat tersebut.

Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Perumahan Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana/Sangat Sederhana Indonesia (APERSI) Jateng dan DIY, Bayu Rama Djati dalam Rakerda APERSI Jateng dan DIY yang diselenggarakan di Yogyakarta belum lama ini.

"Jangan disamakan dengan perumahan komersil karena tugas pengembang perumahan subsidi ini cukup berat," ungkap Bayu dalam keterangan tertulis, Rabu (23/3/2021).

"Mengapa berat? Sebab harga jual dibatasi dan spesifikasi rumah ditentukan. Hal tersebut membuat margin semakin tipis. Karena itu, apabila biaya perizinan dan administrasi mahal, pengembang akan semakin terjepit," imbuhnya.

Ia mengatakan keluhan anggota Apersi lainnya adalah daya beli masyarakat yang semakin turun dan ditambah masalah perizinan, akuisisi lahan terkendala tata ruang, serta fasilitas KPR. Dalam kesempatan yang sama, Bayu menyemangati anggota APERSI untuk bertahan.

"Kita harus bangga meski margin kecil karena di dalamnya ada misi sosial, ada ibadahnya," pungkasnya.

Dari sektor perbankan, Bayu menambahkan besar harapannya agar KPR bersubsidi dapat diimplementasikan dengan baik. Sebab daya beli masyarakat, terutama berpenghasilan rendah, masih dihajar oleh pandemi.

Program KPR Bersubsidi seperti FLPP, SSB dan SBUM dilanjutkan dengan lebih berpihak, supaya produksi rumah terserap dan cita-cita hunian layak bagi warga negara Indonesia dapat terwujud. Topik lain yang dibahas di rakerda Senin (22/3) dan cukup menyita perhatian adalah wacana mengenai sertifikat elektronik.

Di satu sisi akan menjadi lebih efisien dan menghindari sertifikat ganda. Di sisi lain ada kekhawatiran keamanan sistem digital yang bisa diretas. Rakerda APERSI Jateng & DIY yang bertajuk Membangun Sejuta Rumah, Merubah Krisis Bangkitkan Ekonomi Rakyat ini ditutup dengan gala dinner dan penghargaan pada para anggota berprestasi.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik pada 2015, kekurangan kebutuhan (backlog) kepemilikan rumah masih besar. Angka ini diprediksi menjadi 7,6 juta unit hingga tahun 2020 menurut data Kementerian PUPR per maret 2019. Jawa Tengah termasuk dalam 4 besar backlog tertinggi.

APERSI Jawa Tengah & DIY diharapkan perannya untuk mengurai backlog. Namun, APERSI tak bisa sendiri, diharapkan kekompakan stakeholder untuk saling memahami dan memberi kemudahan. Mulai dari badan pertanahan, perpajakan, perbankan hingga stakeholder pemasok material.

Dari segi pemasok material, diharapkan bisa bekerja sama memenuhi kebutuhan pembangunan dengan cepat dan punya spesifikasi mutu sesuai yang ditetapkan pemerintah. PT Superior Prima Sukses, produsen Blesscon bata ringan menyatakan diri siap untuk hal itu.

"Salah satu buktinya dengan membuka pabrik ke-3 di Sragen, Jawa Tengah," ungkap Commercial Director PT Superior Prima Sukses, Henrianto.

Selama ini, mayoritas pengembang di Jawa Tengah & DIY seringkali mendatangkan bata ringan dari produsen di Jawa Timur, termasuk Blesscon. Hal ini dilakukan karena kapasitas produksi di Jawa Tengah kurang mampu memenuhi kebutuhan.

Dari target 1,2 juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, Jawa Tengah & DIY kebagian porsi membangun 100 ribu hingga 150 ribu unit tahun 2021 ini. Kebutuhan bata ringan semakin besar.

Henrianto menilai dengan hadirnya pabrik bata ringan yang baru saja dibangun di Sragen, Jawa Tengah, menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Kapasitas produksi pabrik Blesscon bata ringan di Sragen mencapai 1,6 juta m3 per tahun.

"Kapasitas produksi nantinya dalam sebulan setara dengan 14 ribu rumah subsidi," imbuh Henrianto.

Menurutnya, pengembang bisa mendapatkannya secara cepat karena jarak kirim relatif lebih dekat. Keterlambatan pengiriman juga bisa diminimalisir dengan kepemilikan armada angkutan sendiri.

Dengan hadirnya pabrik bata ringan Blesscon di Sragen, maka membuat semakin dekat, otomatis harga yang ditawarkan ke pengembang lebih kompetitif. Jika dihitung biaya bata ringan per rumah subsidi selisihnya akan terlihat.

"Diharapkan dapat membantu pengembang yang tergabung dalam APERSI Jateng & DIY dapat memenuhi target dengan margin yang masih bisa dikejar," ujarnya.

(ncm/ega)