Seberapa Tangguh Sektor Industri Hadapi Pandemi?

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 12 Apr 2021 20:45 WIB
PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo (DAJK) memproduksi beragam kemasan untuk beberapa produk jadi di Indonesia. Yuk, kita lihat proses pembuatan kemasan tersebut.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Sektor industri disebut-sebut tangguh menghadapi pandemi COVID-19. Di tengah pandemi, realisasi investasi sektor industri pada periode 2020 mencapai Rp 272,9 triliun, tumbuh 26% dari 2019 yang sebesar Rp 216 Triliun.

"Termasuk dengan kesiapan memanfaatkan teknologi industri 4.0, sehingga tetap dapat menjaga aktivitas produksinya," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dalam keterangan resminya yang diterima detikcom, Senin (12/4/2021).

Selain itu, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2021 berada di level 53,2 atau meningkat sebesar 2,3 poin dari Bulan Februari 2021. Peningkatan PMI manufaktur Maret 2021 menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

"Capaian gemilang tersebut mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia akan semakin cepat, dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021," tambahnya.

Baru-baru ini, Indonesia mendapat kesempatan menjadi official partner country ajang Hannover Messe 2021: Digital Edition. Dengan begitu, Indonesia menjadi negara pertama di ASEAN yang mendapatkan kesempatan itu. Kesempatan itu, kata Agus, bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membuktikan diri sebagai salah satu negara yang memiliki kekuatan di sektor industri, terutama dalam penerapan teknologi industri 4.0 lewat terutama dengan adanya capaian-capaian tadi.

"Sesuai arahan Bapak Presiden, dengan menjadi partner country di Hannover Messe, Indonesia dapat menampilkan diri sebagai negara emerging yang tengah melakukan transformasi ekonomi menuju industri 4.0 yang berbasis riset dan inovasi," katanya.

Hannover Messe merupakan pameran dagang terbesar dunia untuk teknologi industri, dengan tradisi yang telah berjalan selama lebih dari 72 tahun. Eksibisi ini memiliki eksposur internasional yang kuat, sebagaimana dicirikan dalam penyelenggaraan di tahun 2019, di mana tercatat lebih dari 6.500 eksibitor dari 75 negara di seluruh dunia ikut serta dalam pergelaran itu.

Setiap tahun, Hannover Messe rata-rata dihadiri 225.000 pengunjung yang merupakan level pemimpin dari perusahaan-perusahaan seluruh dunia. Selain itu, diliput sebanyak 2500 jurnalis dari 51 negara.

Agus optimistis, lewat gelaran Hannover Messe 2021 Digital Edition, akan terjadi transfer teknologi melalui keikutsertaan Indonesia dalam upaya memperkenalkan kekuatan industri nasional dan mendorong keterhubungan Indonesia dengan jejaring rantai suplai global.

"Bahkan, kami meyakini dapat membawa peluang besar bagi Indonesia dalam menarik investasi dan memperluas pasar ekspor sektor industri, sehingga mendorong pemulihan ekonomi nasional,"ujarnya.

Ajang Hannover Messe 2021 Digital Edition juga diyakini bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mewujudkan visi industri nasional dan memperkenalkan peta jalan Making Indonesia 4.0 kepada dunia.

"Salah satu upaya yang dapat didorong untuk akselerasi pertumbuhan industri adalah melalui penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0," jelasnya.

Peta jalan Making Indonesia 4.0 merupakan inisiatif untuk percepatan revitalisasi sektor manufaktur memasuki era industri 4.0.

Sasaran utamanya adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai 10 negara ekonomi terbesar dunia di tahun 2030.

Berdasarkan peta jalan tersebut, terdapat 7 sektor industri yang didorong sebagai fokus prioritas pada Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi, serta alat kesehatan. Ketujuh sektor ini dipilih karena dapat memberikan kontribusi sebesar 70% dari total PDB manufaktur, 65% ekspor manufaktur, dan 60% pekerja industri.

(eds/eds)