Jurus RI Atasi Masalah Limbah Industri

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 25 Apr 2021 14:07 WIB
Foto udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (11/11/2019). Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mencatat, saat ini dari 1.629 industri yang beroperasi di sepanjang Sungai Citarum, 185 diantaranya tidak memiliki fasilitas IPAL dan 1.286 perusahaan tidak terdata memiliki fasilitas tersebut. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.
Ilustrasi Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengingatkan kepada industri untuk tetap mengelola limbah dengan benar meski situasi di tengah pandemi COVID-19. Konsep industri 'hijau' terus digaungkan untuk penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) menyebut pertumbuhan sektor industri harus dibarengi dengan pola pikir industri yang berkelanjutan. Terlebih sektor ini menjadi salah satu sektor pendorong Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Pada triwulan IV tahun 2020 beberapa industri telah tumbuh positif, seperti industri logam dasar tumbuh 11,46%, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 8,45%, industri makanan & minuman sebesar 1,66%, serta beberapa sektor industri lainnya juga telah menunjukkan pertumbuhan yang positif.

"Pertumbuhan ini harus diimbangi dengan perubahan pola pikir dan pola bisnis pada industri untuk menjadi industri yang efisien dan efektif, serta taat pada aturan yang terkait dengan lingkungan hidup agar tidak terjadi konsumsi dan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan," kata Kepala BSKJI, Hendro Martono dalam keterangan tertulis yang dikutip detikcom, Minggu (25/4/2021).

Melalui UU No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, Kemenperin telah mengedepankan konsep industri hijau pada industri untuk mencapai tujuan mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing, dan maju.

Konsep ekonomi sirkular yang digaungkan Kemenperin juga diharapkan akan mampu mendorong pertumbuhan industri baru yang ramah lingkungan serta mampu meningkatkan daya saingnya, khususnya dalam mendukung ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon melalui pendekatan 5R yakni Reuse, Reduce, Recycle, Repair, dan Recovery.

"Pemanfaatan Steam dari Waste Heat Boiler (WHB) Asam Sulfat sebagai Drying di Unit Purified Gypsum pada perusahaan kami dapat mencapai nilai efisiensi hingga Rp 4,6 miliar. Modifikasi equipment pembakaran sulfur mampu menurunkan beban emisi SO2 sebesar 102 ton/tahun. Langkah inovasi perusahaan terus dilakukan sebagai komitmen kami menjaga lingkungan," ujar SVP Teknologi PT. Petrokimia Gresik Joko Raharjo.

Optimalisasi Life Cycle Assessment (LCA) dinilai sangat diperlukan. LCA sendiri merupakan metode untuk mengetahui aspek dan dampak lingkungan potensial dari siklus daur hidup produk.

"LCA yang tepat akan membawa dampak baik bagi industri dan lingkungan berupa efisiensi proses produksi, peningkatan inovasi pada seluruh tahapan proses produksi, peningkatan peluang pasar, dan lain sebagainya," tuturnya.

(aid/zlf)