Chip Langka, Pendapatan Perusahaan Manufaktur Naik Rp 323 T

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 02 Jun 2021 08:00 WIB
Manufaktur
Foto: shutterstock
Jakarta -

Sebanyak 10 perusahaan manufaktur chip terbesar di dunia mengalami pendapatan yang melonjak ke rekor tertinggi pada kuartal pertama tahun 2021. Hal itu dikarenakan terjadinya kelangkaan semikonduktor di global hingga membuat mereka menaikkan harga jual.

Dilansir dari CNBC, Rabu (2/6/2021), total pendapatan kuartalan gabungan dari pembuat chip naik ke rekor US$ 22,75 miliar atau setara Rp 323,9 triliun (kurs Rp 14.238) pada kuartal pertama.

Chip digunakan dalam segala hal mulai dari mobil, konsol game hingga mesin cuci. Mereka membentuk bagian dari kehidupan ekonomi global dan sangat penting bagi banyak industri terbesar dunia. Masalahnya, chip semikonduktor mengalami kekurangan pasokan yang katanya bisa berlanjut hingga 2023.

"Karena melonjaknya permintaan untuk berbagai perangkat, produsen telah meningkatkan kegiatan pengadaan komponen mereka. Sebagai akibatnya mengalami kekurangan sejak 2020," tulis analis TrendForce, Joanne Chiao.

Sekitar 57% dari pendapatan pembuat chip dunia pada kuartal terakhir dihasilkan oleh satu pembuat chip Taiwan: Taiwan Semiconductor Manufacturing Corp (TSMC).

TSMC yang berkantor pusat di Taipei melihat pendapatannya naik menjadi US$ 12,9 miliar pada kuartal pertama, naik 2% dari tahun sebelumnya, menurut TrendForce yang menganalisis seberapa baik masing-masing berbagai chip perusahaan terjual.

Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) mengatakan mereka ingin lebih mandiri dalam hal semikonduktor karena sebagian besar chip dunia dibuat di Asia.

(aid/fdl)