90% Impor, RI Perlu Genjot Investasi Pabrik Bahan Baku Obat

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 06 Jun 2021 14:58 WIB
Pfizer Indonesia menginvestasikan teknologi otomatis terkini Restricted Access Barrier System (RABS) senilai USD 5 juta.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi investasi, Mufti Anam, mendorong Menteri Investasi Bahlil Lahadalia untuk bisa mewujudkan investasi skala raksasa di bidang bahan baku obat. Hal ini adalah tugas berat kedua bagi Bahlil setelah sukses menjadi salah satu pihak yang mengawal mulai terwujudnya Indonesia sebagai pusat industri baterai kendaraan listrik skala dunia.

"Setelah tugas mulia mewujudkan pusat industri baterai dunia itu mulai dirintis dengan baik, tugas mulia baru untuk Pak Bahlil saya usulkan adalah membereskan dan mewujudkan investasi industri bahan baku obat skala super-super besar. Skala super jumbo. Bukan yang kelas menengah," ujar Mufti Anam kepada media, Minggu (6/5/2021).

Menurut Mufti hal tersebut sangat penting mengingat 90 persen bahan baku obat Indonesia masih impor.

"Pengalaman pandemi COVID-19 ini menyulitkan kita, bisa-bisa kita susah dapat bahan baku obat karena perdagangan dunia terganggu pandemi. Termasuk dari India dan China sebagai salah satu sumber bahan baku obat terbesar yang kita impor," papar Mufti.

"Padahal, Indonesia sangat kaya keragaman hayati, baik di darat maupun laut, yang bisa menjadi potensi untuk bahan baku obat," imbuhnya.

Pandemi, lanjut Mufti, juga menyadarkan kita betapa daya saing industri farmasi lokal terutama BUMN masih perlu ditingkatkan. "Belum lagi jika ada gejolak kurs, wah bahaya sekali terkait stabilitas harga obat, padahal itu kebutuhan penting dan mendasar untuk rakyat," jelasnya.

Dia menyebut, setiap tahun nilai impor produk bahan baku obat telah mencapai puluhan triliun rupiah. Devisa negara diboroskan untuk impor bahan baku obat.

"Saat ini mayoritas industri farmasi kita bergerak pada formulasi atau pembuatan obat jadi. Belum banyak di kita yang garap bahan baku obat. Sehingga 90 persen impor. Padahal, rata-rata pasar farmasi di Indonesia tumbuh 10% per tahun. Artinya kalau kita tidak melahirkan investasi industri bahan baku obat, nilai impor ke depan akan semakin besar," jelasnya.

Dia mendorong Kementerian Investasi bersinergi dengan banyak pihak untuk bisa mewujudkan investasi industri bahan baku obat. "Pak Bahlil bisa memetakan pasarnya. Misalnya pasar antibiotik yang sangat tinggi, nah perlu industri bahan bakunya," bebernya.

"Obat fitofarmaka juga perlu difasilitasi untuk melewati uji klinis dan standardisasi, kan itu bisa untuk aspek promotif dan preventif kesehatan. Jadi dipetakan big picture-nya. Bangun investasinya," ujarnya.

(hal/dna)