Bangun Industri Mobil Listrik, RI Bisa Hemat Impor BBM Rp 28 Triliun/Tahun

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 24 Jun 2021 14:12 WIB
Infografis Indonesia masih impor BBM
Foto: Infografis detikcom/Denny: Indonesia Masih Impor BBM
Jakarta -

Indonesia bisa menghemat pengeluaran untuk impor BBM jenis gasolin dengan terbangunnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Devisa yang bisa dihemat sekitar US$ 1-2 miliar atau setara Rp 14,4-28,9 triliun pertahun.

Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto Nugroho mengatakan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 400 ribu barel gasolin sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

"Selama ini kita masih mengimpor jenis gasolin sekitar 400.000 barel," katanya dalam webinar yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), Kamis (24/6/2021).

Menurutnya menjadi suatu hal yang sangat strategis jika Indonesia bisa memproduksi sedikitnya sekitar 600 ribu kendaraan listrik per tahun untuk menekan konsumsi BBM.

"Kita akan menghemat jumlah impor BBM ke Indonesia secara signifikan," sebutnya.

Melalui konversi kendaraan berbahan bakar BBM ke kendaraan listrik maka berdasarkan hitung-hitungan, biaya yang dihemat dari impor BBM sebesar US$ 1-2 miliar.

"Kalau kita bisa mengubah ini menjadi EV (kendaraan listrik), tentunya dengan EV yang diproduksi dari Indonesia itu nilai saving dari nilai impor itu bisa mencapai US$ 1 sampai US$ 2 miliar per tahun," tambah Toto.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan pabrik baterai sel (cell battery) kendaraan atau mobil listrik di Indonesia mulai dibangun Juli atau selambat-lambatnya pada Agustus 2021, dan mulai berproduksi di 2023.

Ekosistem industri kendaraan listrik ini digarap oleh konsorsium yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding. Pabrik baterai kendaraan listrik ini akan memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 10 giga watt per hour.

"Insyaallah ini berproses dan berproduksi di tahun 2023 akhir untuk tahap pertama 10 giga," katanya dalam webinar yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), Kamis (24/6/2021).

(toy/zlf)