Suplai Oksigen Dijamin Cukup, Begini Hitung-hitungannya

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 07 Jul 2021 19:15 WIB
Close-Up Image Of Medical Oxygen Tube And The Wheelchair Behind It.
Foto: Getty Images/iStockphoto/ozgurkeser
Jakarta -

Tabung oksigen mengalami kelangkaan baru-baru ini karena lonjakan COVID-19. Produsen mengungkap atas imbauan pemerintah saat ini tabung oksigen harus dialihkan 100% untuk keperluan medis, maka pasokan oksigen yang dimiliki Indonesia disebutnya cukup.

"Beberapa kementerian sudah koordinasi dengan 10 produsen untuk memenuhi pasokan oksigen, bahwa Pak Luhut mengatakan harus dialihkan 100% untuk medis. Produksi dalam negeri kalau 100% dialihkan medis, seharusnya cukup," kata Rachmat, dalam acara Blak-blakan detikcom, dikutip Rabu (7/7/2021).

Rachmat mengungkap dalam satu tahun ini produksi oksigen di Indonesia secara nasional sebanyak 1.700 ton per hari.

"Kita total produksi 1.700 per hari, selama setahun ini 1.700 per hari seluruh indonesia, untuk penggunaan industri biasanya 70% industri 30% medis, jadi ga bisa disalahin produsen dan pemerintah. Ini kita harus mengendalikan diri," ujar dia.

Meski pasokan oksigen diklaim cukup. Menurut Rachmat ada beberapa hal yang harus dibenahi agar tidak terjadi keterbatasan tabung oksigen. Pertama, silinder manajemen tabung oksigen di rumah sakit harus diperbaiki.

"Banyaknya masyarakat di rumah sakit darurat ini kan tabung oksigen ada di garasi ada di mana-mana, itukan silindernya tercecer, kalau mereka tidak punya silinder manajemen yang baik tiba-tiba tabung oksigen itu hilang, entah di bawa pasien atau di mana ngga dibalikin. Kalau kita drop 100 kita ambilnya 50 dan kalau drop 50 ambil 20, lama lama kan jadi habis," lanjutnya.

Masalah kedua, banyak masyarakat yang beli tabung oksigen untuk sendiri. Sementara rumah sakit membutuhkan terus-menerus. Menurutnya harus ada sebuah gerakan seperti yang sudah ada, yanki jasa pinjam oksigen.

"Masyarakat banyak yang beli oksigen sendiri, itu kan nggak dikembalikan tapi disimpan itu kan hak dia. Sedangkan di rumah sakit harus rolling terus. Maka memang di sini harus ada yang namanya gerakan. Kami sudah melihat ada komunitas pinjem oksigen. Ok kalau ada oksigen satu atau dua dipinjamkan temannya kalau sudah, dipinjamkan lagi," ungkapnya.

Kemudian, dia mengatakan jika pemerintah membuka opsi impor tabung oksigen, hal itu disebutnya terlalu heboh. "Kalau kita impor 2.000-5.000 botol gas itu terlalu hebohlah," ujarnya.

Dia menjelaskan impor oksigen, hal yang tidak perlu dilakukan. Tetapi, dia menduga jika pemerintah benar-benar ingin melakukan impor, apabila lonjakan kasus COVID-1 makin melonjak untuk mempersiapkan diri.

"Kalau misalnya ada rencana impor dari Taiwan dan segala macam yang siap impor ya siap-siap saja. Tapi kalau memang nggak butuh, buat apa sih kita impor. Mau diangkut pakai apa?," pungkas Rachmat.

"Saya tahu hati pak Presiden maupun jajarannya sangat mulia, mereka nggak ingin masyarakat tak kehabisan oksigen. Saya garis bawahi sampai hari ini belum ada impor oksigen sama sekali. Wacana itu kemungkinan hanya untuk antisipasi bila lonjakan pasien COVID-19 makin naik," pungkasnya.

Tonton Blak-blakan Rachmat Harsono, Tak Ada Penimbunan Oksigen - Tak Perlu Impor

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)