Peran BPOM soal Pengawasan Obat COVID

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 01 Sep 2021 19:18 WIB
Obat virus corona: WHO lanjutkan uji coba obat hidroksiklorokuin untuk menangkal Covid 19, setelah studi tentangnya ditarik
Foto: BBC World

3. Remdesivir

Efek yang tidak diinginkan dari penggunaan remdesivir bisa terjadi pada berbagai organ. Dari data non klinik, terdapat risiko rendah untuk terjadinya efek samping pada susunan saraf pusat, pernapasan, dan kardiovaskular pada perkiraan kadar terapi untuk manusia. Secara keseluruhan, efek samping yang terjadi di antaranya:

- Gastrointestinal: diare (9 persen), peningkatan enzim hepatik transaminase (23 persen)

- Ginjal: renal impairment (8 persen), acute kidney injury (6 persen)

- Kardiovaskuler: hipotensi (8 persen), atrial fibrilasi (6 persen), deep vein thrombosis (6 persen)

- Respirasi: pneumotoraks (4 persen), acute respiratory distress syndrome (4 persen)

- Gangguan elektrolit: hipernatremia (6 persen)

- Lain-lain: demam (4 persen), syok septik (4 persen), hematuria (4 persen), delirium (4 persen).

Suatu penelitian klinis pada kasus COVID-19 meneliti mengenai penggunaan remdesivir selama 10 hari dengan dosis 200 mg intravena pada hari pertama, dilanjutkan dengan dosis 100 mg intravena selama 9 hari setelahnya.

Penelitian tersebut mendapatkan bahwa dari 53 subjek terdapat 32 subjek yang mengalami efek samping, dan lebih sering terjadi pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik. Sebanyak 12 subjek (23 persen) mengalami efek samping serius, seperti multiple organ dysfunction syndrome, syok sepsis, cedera ginjal akut, dan hipotensi.

Dari ulasan ketiga obat di atas, dapat dilihat bahwa efek samping Ivermectin masih masuk dalam kategori ringan. Menarik untuk mengulas makalah berjudul "Ivermectin, 'Obat Ajaib' dari Jepang: Perspektif Penggunaan Manusia" yang ditulis oleh Andy Crump dan Satoshi Mura dan diterbitkan oleh US National Library of Medicine National Institutes of Health atau Perpustakaan Kedokteran Nasional AS Institut Kesehatan Nasional.

Makalah ini membahas secara mendalam seputar peralihan Ivermectin dari kesuksesan besar di kesehatan hewan menjadi penggunaannya secara luas pada manusia, sebuah perkembangan yang membuat banyak orang menggambarkannya sebagai obat "ajaib"


(dna/dna)