Kenapa Pabrik Rokok Masih Cuan Segede 'Gaban' Meski Cukai Naik?

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 26 Sep 2021 16:54 WIB
Pemerintah akan menaikkan cukai rokok 23% dan harga jual eceran (HJE) 35% mulai tahun depan.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kondisi menarik datang dari industri rokok di tanah air. Pabrik-pabrik rokok masih mencatatkan laba yang cukup besar meski konon mereka terdampak pandemi dan tertekan imbas kenaikan tarif cukai rokok.

Apa yang membuat pabrik rokok masih bisa untung besar di tengah tekanan pandemi dan kenaikan tarif cukai rokok?

Asisten Koordinator Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) di Indonesia, M Bigwanto mengungkap, kondisi ini tak lepas dari candu yang sudah terlanjur menghinggapi para perokok.

"Akibat candu ini, para perokok sulit lepas dari kebiasaannya dan tetap membeli rokok meski pendapatan rumah tangga tertekan," kata dia dalam sebuah diskusi virtual belum lama ini.

Menurut Big, kondisi ini lah yang membuat industri rokok tetap bisa mengakumulasi pendapatannya meski kondisi ekonomi nasional bisa dikatakan tengah sulit.

Benar saja, menurut Survey IDEAS (Institute for Demographic and Poverty Studies) pada keluarga miskin di 5 kota menyebutkan 73,2% perokok miskin mempertahankan pengeluarannya untuk beli rokok dengan mengurangi kebutuhan lainnya. Sederhananya, mereka rela tak makan asal tetap bisa merokok.

Sebelumnya, Penelusuran detikcom menemukan, pabrik-pabrik rokok besar yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatat laba, bahkan ada yang labanya naik meski tarif cukai rokok naik dan industri dihantam pandemi.

Bagaimana datanya? Buka halaman selanjutnya.