Aksi Menteri Golkar Selamatkan Industri Otomotif Indonesia

Mega Putra Ratya - detikFinance
Rabu, 27 Okt 2021 17:00 WIB
2.

Hasil Manis Diskon PPnBM

Aksi Menteri Golkar Selamatkan Industri Otomotif Indonesia
Foto: Dok. Kemenperin

Diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) membuat penjualan mobil laris manis. Bahkan pada kuartal II-2021 terjadi kenaikan penjualan 758,68% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Pada kuartal II-2020, penjualan mobil tercatat sebanyak 24,04 ribu unit. Sedangkan pada kuartal II tahun ini tercatat penjualan mobil mencapai 206,44 ribu unit. Sedangkan pada kuartal I-2021 adalah 187,03 ribu unit.

"Kita bisa lihat volume penjualan mobil langsung naik ketika kita lihat kuartal II-2020 sangat tertekan, salah satu industri yang hard hit, kemudian di kuartal I-2021 sudah mulai ada peningkatan dan kuartal kedua baik sekali," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/8/2021).

Meningkatnya penjualan mobil juga terlihat dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 7,54%. PMTB adalah pengeluaran untuk barang modal yang mempunyai umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi.

"Ini catatan dari kami salah satu faktor penunjang pertumbuhan PMTB ini adalah pertumbuhan barang modal jenis kendaraan yang dipengaruhi oleh peningkatan produk kendaraan domestik. Ini pasti ada pengaruhnya dari kebijakan pemerintah berkaitan dengan PPnBM ditanggung pemerintah untuk otomotif," paparnya.

Tak Ada PHK

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menyatakan bahwa pabrikan otomotif di Tanah Air aman dari gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Nangoi mengatakan titik balik industri otomotif keluar dari masalah krisis Covid-19 jadi momentum pada gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2021. Seperti diketahui pameran ini juga sempat tertunda selama lebih dari 1,5 tahun.

"GIIAS kali ini mengambil tema wheels to move, luar biasa semua orang bilang dalam ekonomi yang sedang terpuruk maka industri yang akan mati adalah industri otomotif," kata Nangoi saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

"Dengan bangga saya katakan industri otomotif bisa bertahan bahkan sampai saat ini tidak ada satupun PHK yang terjadi industri otomotif kecuali pegawai kontrak yang habis masa kontraknya tidak diperpanjang lagi ataupun juga pegawai yang sifatnya outsourcing tidak diperpanjang lagi tapi secara overall tidak ada PHK massal di industri otomotif," imbuhnya.

Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah terhadap industri otomotif berupa diskon PPnBM yang sudah berlaku sejak Maret 2021. Karena diskon PPnBM, penjualan mobil naik, permintaan meningkat sehingga industri otomotif yang tahun lalu sempat anjlok kini kembali bergulir.

"Kemenperin mensupport industri otomotif dengan memberikan spesial insentif yang kita sebut PPnBM DTP (Ditanggung Pemerintah), hasilnya bulan September-Oktober penjualannya lebih baik, tapi yang jelas sebelum pandemi penjualan kita per bulan rata rata sebulan 90 ribu unit, bulan April-Mei tahun lalu cuma 5 ribu unit per bulan, di tahun 2021 setelah pandemi Agustus-September 2021 penjualannya kembali di angka 85 ribu," urai Nangoi.

Pulihnya produksi dan penjualan industri otomotif membawa dampak yang luas bagi sektor industri lainnya. Nangoi menambahkan dalam menjalankan bisnisnya, industri otomotif dinilai memiliki keterkaitan dengan industri lainnya (industri pendukung).

"Luar biasa support dari pemerintah karena selama masa pandemi pabrik mobil tidak ditutup tapi kita jalankan secara berjenjang, sementara di beberapa negara lain diliburkan," kata Nangoi.

"Industri otomotif adalah lokomotif yang menarik gerbong cukup banyak ada komponen, finance juga, dan begitu banyak usaha yang terkait dengan industri otomotif," ungkap Nangoi.

Industri otomotif merupakan industri padat karya. Saat ini, lebih dari 1,5 juta orang bekerja di industri otomotif yang terdiri dari lima sektor, yaitu pelaku industri tier II dan tier III (terdiri dari 1.000 perusahaan dengan 210.000 pekerja), pelaku industri tier I (terdiri dari 550 perusahaan dengan 220.000 pekerja), perakitan (22 perusahaan dan dengan 75.000 pekerja), dealer dan bengkel resmi (14.000 perusahaan dengan 400.000 pekerja), serta dealer dan bengkel tidak resmi (42.000 perusahaan dengan 595.000 pekerja).

(ega/hns)