Jokowi Sebut Strategi Gas-Rem Saat Pandemi Sukses Pulihkan Industri

Angga Laraspati - detikFinance
Kamis, 11 Nov 2021 21:30 WIB
Kemenperin
Foto: Kemenperin
Jakarta -

Sejak pandemi COVID-19, Pemerintah Indonesia menerapkan strategi rem dan untuk mengendalikan laju penyebaran COVID-19. Presiden Joko Widodo mengatakan strategi itu dilakukan dengan pengendalian aktivitas dan mobilitas masyarakat secara terukur dan terarah, sehingga bisa memberikan peluang agar ekonomi tetap bisa tumbuh dan bergerak.

"Berbagai pembatasan itu tidak membuat aktivitas sektor industri, terutama industri esensial, sepenuhnya berhenti. Para pelaku industri ikut berpartisipasi pada upaya pengendalian pandemi agar tetap produktif untuk membantu pemulihan ekonomi," kata Jokowi dikutip, Kamis (11/11/2021).

Dalam sambutannya pada acara pembukaan Regional Conference on Industrial Development (RCID) ke-2 di Jakarta, Rabu (10/11) kemarin, Jokowi menuturkan strategi rem dan gas tersebut membuahkan berbagai hasil. Misalnya pada pemulihan sektor industri di Indonesia, yang menunjukkan tren positif pada kinerja pertumbuhannya.

"Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia di bulan Oktober 2021 mencapai 57,2 atau meningkat bila dibandingkan bulan sebelumnya di angka 52,2," ungkapnya.

Jokowi juga menegaskan, pandemi bukan hanya memberi ujian, tetapi juga menciptakan sebuah peluang baru. Dampak luas pandemi memaksa dunia melakukan transformasi digital lebih cepat, serta mendorong sektor industri turut berubah dan beradaptasi secepat-cepatnya.

"Digitalisasi industri memang menjanjikan, yakni meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah yang memberikan peluang untuk berkembang, bahkan melompat. Namun harus disadari transformasi digital dapat menghadirkan digital paradoks," tutur Jokowi.

Karena itu, Jokowi menuturkan transformasi digital harus mendukung pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan dengan memperbesar partisipasi pelaku UMKM dalam global value chain, memperkuat SDM sektor IKM, mendorong berjalannya ekonomi sirkular, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam.

"Pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan menjadi kunci, memberikan manfaat bagi industri dalam negeri, menciptakan asas dan kesempatan yang luas dan berkeadilan, khususnya sektor IKM untuk melakukan percepatan transformasi industri 4.0 sehingga bisa naik kelas, semakin maju dan berdaya saing," imbuhnya.

Jokowi juga menekankan, penting lahirnya inovasi untuk meningkatkan produktivitas di seluruh rantai nilai global, mendorong kerja sama untuk menjawab tantangan dan mengambil peluang industri 4.0, menciptakan level of playing field di kawasan, membangun platform knowledge sharing bagi negara berkembang untuk belajar dari kawasan yang lebih maju, sehingga industri secara global menjadi semakin cerdas, terhubung, dan terdigitalisasi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap pada konferensi RCID ke-2 ini akan ada terobosan dalam komitmen percepatan implementasi industri 4.0 untuk sektor manufaktur yang inklusif dan berkelanjutan sesuai dengan tema konferensi ini.

"Visi bersama, semangat kolaborasi dan langkah kebersamaan menjadi kunci utama kebangkitan sektor industri di kawasan Asia Pasifik, terutama dalam menghadapi pandemi COVID-19," tandas Airlangga.

Lebih lanjut, pelaksanaan RCID ke-2 dengan tema 'Acceleration of Industry 4.0 for Inclusive and Sustainable Industrialization', diharapkan dapat menghasilkan gagasan dan terobosan dalam mempercepat penerapan industri 4.0 di negara berkembang dan kurang berkembang, khususnya dalam aspek partisipasi UMKM pada global value chain (GVC), penguatan sumber daya manusia UMKM, implementasi sirkuler ekonomi, dan optimalisasi penggunaan sumber daya alam melalui industri hijau, terutama pada masa pandemi Covid-19 saat ini.

Airlangga menambahkan, bagi Indonesia, RCID ke-2 merupakan momentum strategis kepresidenan G20 Indonesia mulai 1 Desember 2021 dengan tema 'recover stronger, recover together'. Tema tersebut menetapkan visi bahwa tidak ada yang tertinggal dan bahwa pemulihan dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi bukanlah sebuah kontes.

Selain itu, menunjukkan harapan dan kesiapan Indonesia untuk berpartisipasi dalam kemitraan global, sebagai upaya mengatasi dampak pandemi.

"Pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19 akan difokuskan pada empat pilar untuk mendorong produktivitas, meningkatkan stabilitas dan ketahanan ekonomi, memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, serta memberdayakan lingkungan dan kemitraan," sebutnya.

Selanjutnya, di bawah Presidensi Indonesia di G20, untuk pertama kalinya isu industri masuk menjadi salah satu isu utama. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan sektor industri ke dalam Trade Investment and Industry Working Group (TIIWG) G20.

"TIIWG akan fokus untuk memberikan pemulihan yang kuat bagi ekonomi G20, termasuk dengan membuat kemajuan dalam diskusi G20 tentang industri 4.0, untuk pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan," jelas Airlangga.

Dalam konteks itu, RCID ke-2 ini dinilai sebagai forum pengantar untuk membahas isu-isu terkait Industri 4.0, dan mempersiapkan masukan Regional Asia Pasifik untuk dibahas dalam forum G20.

Halaman selanjutnya Jawab Tantangan Global..

Simak video 'Airlangga di GIIAS: 'Gas-Rem' Tangani Covid-19 Diambil dari Ilmu Otomotif':

[Gambas:Video 20detik]