Jokowi Sebut Strategi Gas-Rem Saat Pandemi Sukses Pulihkan Industri

Angga Laraspati - detikFinance
Kamis, 11 Nov 2021 21:30 WIB
Kemenperin
Foto: Kemenperin

Jawab Tantangan Global

KemenperinKemenperin Foto: Kemenperin

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, RCID merupakan forum bagi negara-negara di Kawasan Asia Pasifik untuk bertukar pandangan, kebijakan, pengetahuan, dan gagasan dalam pembangunan industri.

"Dalam konteks kekinian, forum ini berfokus pada bagaimana menjawab tantangan-tantangan terkait pemulihan kesehatan global, transformasi industri 4.0, dan transisi energi menuju green industry untuk menjamin pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan," terang Agus.

Agus menjelaskan, konferensi RCID ke-2 merupakan tindak lanjut dari suksesnya penyelenggaraan RCID pertama yang dilaksanakan pada 8-9 November 2018 di Bali yang menghasilkan Bali Industry 4.0 Agenda. RCID ke-2 ini juga akan menjadi tonggak penting menuju persiapan pertemuan TIIWG G-20 yang akan berlangsung pada tahun 2022.

"Indonesia menyatakan siap menyuarakan aspirasi-aspirasi dari negara-negara, khususnya negara-negara berkembang non G-20 dalam forum-forum G20," tuturnya.

Menurut Agus, selama dua tahun dunia bergulat dengan pandemi COVID-19. Di setiap negara, ada banyak rupa kisah tentang kesedihan, penderitaan, dan keharuan.

"Bagaimana tidak, pandemi telah menciptakan efek domino yang menyebabkan krisis multidimensi, tidak hanya di bidang kesehatan tetapi juga ekonomi, dan sosial," ujarnya.

Di masa awal pandemi, hampir seluruh masyarakat gagap menghadapi situasi yang sedemikian cepat berubah. Tetapi perlahan namun pasti, resiliensi yang terbangun akibat hantaman pandemi membuat semua masyarakat mulai mampu beradaptasi dengan segala perubahan dan disrupsi yang terjadi.

"Sungguh, pandemi adalah obat pahit yang harus kita telan untuk pulih, bangkit, dan tumbuh lebih kuat. Lebih lanjut, pandemi ini memaksa seluruh negara melakukan reset terhadap ekonomi, meninjau seluruh kebijakan ekonomi, segala perencanaan yang telah disusun harus dirubah dan dievaluasi kembali, karena dunia sudah berubah dan tidak akan kembali seperti dulu kala," kata Agus.

Kesempatan perubahan tersebut harus dijadikan momentum bagi setiap negara untuk melihat dan mempelajari lagi kekuatan-kekuatan yang dimiliki, serta memposisikan diri dalam persiapan menghadapi pandemi yang akan muncul kembali di masa mendatang.

"Ke depan, ada tiga kata kunci yang akan menjadi arah dalam melewati pandemi, memperkuat sektor kesehatan, melakukan transformasi digital dan transisi energi menuju green industry," imbuhnya.

Agus berharap, konferensi ini berlangsung produktif dan menghasilkan rekomendasi bagi upaya kawasan untuk mempercepat adopsi industri 4.0 untuk Inclusive Sustainable Industrial Development (ISID), meningkatkan kesiapan pelaku IKM di kawasan untuk penyerapan industri 4.0 di masa COVID-19, serta menyusun kerangka ekosistem Industri 4.0 sebagai acuan global untuk mempercepat industri 4.0 bagi ISID.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal UNIDO, Li Yong menerangkan transformasi digital merupakan kunci untuk mendorong produktivitas dan memperkuat pemulihan global. Upaya ini sebagai aspek terpenting dalam pencapaian agenda Sustainable Development tahun 2030, khususnya dengan dampak pandemi yang masih berjalan saat ini, dan di saat komunitas international mulai membangun kembali perekonomiannya.

"Konvergensi teknologi dan perkembangan teknologi yang eksponensial memberikan banyak peluang untuk merealisasikan keuntungan-keuntungan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Transformasi digital di sektor industri juga mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan kaum muda di industri di masa mendatang," ungkapnya.

Namun, untuk menjaring sebesar-besarnya potensi dari industri di masa depan, sangat penting bagi pemerintah untuk menyiapkan negaranya dengan baik melalui upaya terpadu dan kerja sama dengan multistakeholder di level nasional, regional, dan internasional.

Untuk itu, UNIDO sedang membangun framework strategis yang akan mengutamakan pendekatan industri 4.0 di seluruh fungsi organisasi.

"Kami terbuka bagi konsultasi untuk memastikan semua negara dapat memperoleh keuntungan dari revolusi industri 4.0 ini. UNIDO juga akan menggunakan keahliannya dan kemampuannya untuk mengumpulkan para ahli terbaik untuk mendukung transformasi digital," tuturnya.

Li Yong berharap, kontribusi konferensi RCID ke-2 ini untuk memperkuat kerja sama regional untuk akselerasi adopsi teknologi industry 4.0 dengan dikungan ISID dan agenda Sustainable Development pada 2030.

"Saya yakin platform ini akan mengidentifikasi area-area prioritas yang dapat membantu kawasan ini untuk memaksimalkan peluang industri 4.0, juga untuk memberikan input bagi Asia Pasifik dalam diskusi G20 pada 2022," ujarnya.


(ega/hns)