ADVERTISEMENT

Cabut dari Malaysia, Pabrik AC Panasonic Produksi di RI

Nada Zeitalini - detikFinance
Senin, 22 Nov 2021 19:15 WIB
Menperin Resmikan Pabrik AC Relokasi dari Malaysia
Foto: Kemenperin

Berdasarkan data diketahui impor produk AC masih tergolong besar, yakni US$ 0,33 miliar pada 2020. Angka terebut turun 19% dibandingkan impor AC di tahun 2019 yakni sebesar US$ 0,41 miliar. Namun, data impor pada kuartal III - 2021 menunjukkan kenaikan impor produk AC sebesar 36,8% dengan besaran US$ 0,398 miliar dari yang periode yang sama tahun sebelumnya hanya US$ 0,29 miliar.

"Di sisi lain, ekspor produk AC juga mengalami kenaikan sebesar 136,5% dari US$ 0,55 miliar pada kuartal III - 2020 menjadi US$ 0,13 miliar pada kuartal III - 2021. Hal ini menunjukkan adanya potensi pasar AC di dalam negeri yang semakin meningkat serta peningkatan produksi dan daya saing industri AC untuk pangsa ekspor," jelasnya.

Presiden Direktur PT PMI Tomonobu Otsu menyampaikan keinginan Panasonic dalam melaksanakan misinya berkontribusi pada Indonesia. Melalui langkah perluasan investasi serta meningkatkan bisnis di Indonesia dengan produk-produk yang mendukung kehidupan masyarakat yang sejahtera.

"PT PMI mengucapkan terima kasih kepada pemerintah khususnya Kementerian Perindustrian yang telah memberikan dukungan dan arahan yang jelas mengenai rencana tahapan pendalaman struktur industri, sehingga proses relokasi pabrik Panasonic dari luar Indonesia dapat berjalan sesuai target," paparnya.

PT PMI yang berdiri sejak 1979 telah memproduksi AC inverter untuk kebutuhan pasar domestik dan AC non-inverter untuk pasar lokal serta ekspor ke Nigeria.

Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel memaparkan keberhasilan memproduksi AC model baru yang merupakan relokasi dari Malaysia, tak lepas dari bimbingan Kemenperin. Tentunya dengan selalu memperhatikan, memberikan dukungan, serta mendengarkan kesulitan para pabrikan.

"Hal penting yang harus dicatat, para pelaku industri juga terdorong untuk menghasilkan nilai tambah di Indonesia karena modal pasar kita yang besar," ujarnya.

Rachmat juga menambahkan pentingnya terus mendorong P3DN. Sebab konsep pemerintah dalam meningkatkan komponen di dalam negeri mampu menciptakanlapangan kerja bagi masyarakat, mendorong adanya investasi besar, dan semakin memajukan sektor industri.

Pengembangan Industri Semikonduktor

Agus Gumiwang menyampaikan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan pada 2018 menempatkan industri elektronik sebagai salah satu prioritas. Strategi yang dijalankan Kemenperin dalam pengembangan sektor ini antara lain dengan menarik pemain global terbaik, meningkatkan produktivitas komponen elektronik bernilai tambah, mengasah kemampuan tenaga kerja dalam negeri melalui pelatihan intensif, serta mendukung pelaku industri unggulan untuk melahirkan inovasi lanjutan dan mempercepat transfer teknologi.

"Industri elektronika seharusnya menjadi core Industri 4.0. Oleh sebab itu saya mengajak PT PMI sebagai leading sector industri elektronik di dunia, untuk bersama memikirkan dan mendorong pengembangan industri semikonduktor," ujar Agus.

Menurutnya, upaya pengembangan industri semikonduktor harus segera dimulai. Mengingat saat ini dunia sedang menghadapi kelangkaan komoditas ini, sehingga menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi pasar tersebut. Sebelumnya, ia juga sudah melakukan berbagai pertemuan dengan beberapa industri di Jerman untuk mengeksplorasi lebih dalam peluang investasi industri semikonduktor Indonesia.


(fhs/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT