Dapat Wejangan Jokowi di Pesawat, Luhut: Tidak Ada yang Bisa Hambat Izin!

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 21 Des 2021 15:40 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (YouTube Sekretariat Presiden)
Foto: Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (YouTube Sekretariat Presiden)

Setelah pihaknya mempelajarinya, permasalahan yang dihadapi adalah permasalahan 'antara lebih dulu telur dan ayam', yang mana pihak investor industri bersedia berinvestasi kalau PLTA di wilayah tersebut sudah dibangun, sementara di sisi lain investor PLTA hanya mau membangun jika sudah ada kepastian pembeli listriknya. Permasalahannya terus berkutat di situ saja.

"Jadi akhirnya pembangunannya tidak maju-maju, dan ini membutuhkan suatu keberanian kemampuan eksekusi yang baik serta kekuatan finansial yang besar untuk merealisasikan PLTA dan kawasan industri di wilayah kawasan ini. Dan lebih dari itu adalah keputusan politik dari Presiden yang memberikan dukungan sepenuhnya untuk proyek ini," jelasnya.

Untuk PLTA saja, Luhut mengestimasi kebutuhan biayanya mencapai US$ 10-12 miliar. Belum lagi untuk pelabuhan yang harus dibangun menjorok ke tengah laut karena kedalaman yang dangkal di sisi pantai, membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tepatnya sekitar US$ 1 miliar untuk pengembangan pelabuhan saja.

Pada 2019, Luhut menjelaskan pihaknya mulai melakukan penjajakan serius terhadap pengembangan kawasan industri tersebut. Atas perintah Presiden, pihaknya melakukan roadshow ke banyak negara, meliputi Amerika Serikat, Eropa, Uni Emirat Arab, dan Tiongkok untuk menawarkan potensi investasi di Kawasan Industri Hijau Indonesia.

"Pada awalnya sambutan biasa-biasa saja, namun menjelang akhir 2019 beberapa investor mulai merespons dengan sangat serius, mereka bersedia membangun industrinya terlebih dahulu, membangun solar panel dan termasuk PLTU yang digunakan selama 10 sampai 15 tahun kedepan selama periode transisi pembangunan dari PLTA tadi," tambah Luhut.

"Para investor tersebut adalah Bapak-bapak yang hadir di sini, Bapak Presiden sudah ketemu kemarin ada 10 investor besar dari Tiongkok yang bersama-sama kita hari ini. Mereka adalah investor yang sudah terbukti memiliki track record (rekam jejak) investasi yang sangat baik dan telah menanamkan puluhan miliar dolar untuk melakukan hilirisasi nikel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya.


(toy/fdl)