ADVERTISEMENT

Catatan untuk Regulasi Vape cs di RI

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 23 Des 2021 17:32 WIB
ilustrasi vape
Foto: iStock

Demi mendorong peralihan dan dengan adanya bukti ilmiah bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok, Satria mengharapkan adanya regulasi bagi produk tersebut. Sebab, regulasi yang mengatur produk alternatif ini baru berupa pengenaan tarif cukai 57 persen.

"Regulasi harus segera diformulasikan. Namun regulasinya harus berdasarkan pada data lapangan terkait bagaimana perilaku orang merokok, bagaimana hasil kajian terhadap pengurangan risikonya, dan sebagainya sehingga ketika aturan sudah dibuat, maka pasar dan masyarakat akan merespon," katanya.

Konsultan Emeritus di Rumah Sakit St Vincent dan Ketua Lembaga Australia21, Alex Wodak yang menjadi narasumber dalam Malaysia Harm Reduction Forum beberapa waktu lalu, mengatakan, Inggris mendukung penggunaan produk tembakau alternatif yang diperkuat dengan regulasi. Hasilnya, angka perokok di negara tersebut mengalami penurunan. Sementara Australia yang anti-produk tembakau alternatif, angka perokoknya justru tidak mengalami penurunan yang signifikan.

"Pengaruh terhadap penggunaan produk tembakau alternatif terhadap tingkat merokok mulai dirasakan setelah tahun 2013. Sejak 2013, tingkat merokok di Australia hanya turun 0,3 persen per tahun, berbanding dengan Inggris 0,9 persen per tahun," ucapnya.

Akan tetapi, angka ini naik drastis setelah produk tembakau alternatif dijadikan solusi mengurangi prevalensi perokok di Inggris.

Berdasarkan data Badan Statistik Inggris, angka perokok mengalami penurunan dari 14,4 persen pada 2018 menjadi 14,1 persen pada 2019. Angka perokok Inggris kini 6,9 juta jiwa, dengan rincian 3,8 juta perokok pria dan 3,1 juta perokok wanita.


(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT