Genjot Industri Bernilai Tambah, Pemerintah Dorong Program Kemitraan

Atta Kharisma - detikFinance
Senin, 27 Des 2021 23:30 WIB
Kemenko Perekonomian
Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Pemerintah terus mendorong program hilirisasi industri dengan mengurangi ekspor bahan mentah atau raw material, guna meningkatkan nilai tambah di sektor industri dan daya saing perekonomian nasional. Melalui program tersebut, pemanfaatan alih teknologi berperan penting dalam memanfaatkan hasil sumber daya alam serta menjaga lingkungan.

Hal ini diungkapkan oleh Presiden RI Joko Widodo dalam acara peninjauan Pabrik Ferronickel dan Stainless Steel serta Peresmian PT Gunbuster Nickel Industry di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

"Berkali-kali saya sampaikan stop ekspor nikel. Tahun depan stop bahan mentah bauksit, tahun depan kita akan stop ekspor minerba lainnya. Kita berhenti ekspor bahan mentah yang tidak membawa nilai tambah besar bagi negara," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (27/12/2021).

Jokowi memberikan dukungan bagi investor yang ingin membangun industri hilirisasi bauksit dalam setahun ke depan ini. Ia juga mengimbau Pemerintah Daerah agar selalu menjaga iklim investasi di daerah masing-masing, sehingga menciptakan situasi yang kondusif bagi investor untuk mengembangkan industri bernilai tambah. Dari industri tersebut nantinya akan mendapatkan pajak, membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya, dan memperoleh devisa dalam jumlah yang tidak sedikit.

"Berikan keamanan bagi investor untuk menjalankan aktivitas usahanya, sehingga bisa meningkatkan nilai investasinya di masa mendatang. Manfaat untuk masyarakat sekitar yaitu akan membuka lapangan pekerjaan dan peluang UMKM baru, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di provinsi maupun kabupaten tempat industri berada," jelas Jokowi.

Indonesia memiliki cadangan nikel nomor 1 di dunia yang mencapai 21 juta ton atau 24% dari total cadangan dunia. Produksi nikel Indonesia pada tahun 2020 mencapai 781.000 ton atau 31,8% dari produksi nikel dunia. Produksi nikel tersebut diperkirakan akan terus meningkat ke depannya, baik untuk produksi nickel pig iron maupun pemrosesan high pressure-acid-leach dari bijih berkadar rendah.

Peningkatan nilai tambah dari bijih nikel menjadi produk feronikel adalah 14 kali, dan jika menjadi billet stainless steel akan mencapai 19 kali. Saat ini, smelter nikel yang beroperasi telah mencapai investasi sebesar US$15,7 miliar, dengan kapasitas feronikel yang dihasilkan mencapai 969.000 ton/tahun.

Ekspor produk feronikel juga meningkat sangat pesat dari tahun ke tahun, di mana pada 2020 mencapai US$4,7 miliar, dan pada periode Januari hingga Oktober 2021 tercatat mencapai US$5,6 HM.4.6/501/SET.M.EKON.3/12/2021 miliar. Berdasarkan data World Top Export, saat ini ekspor produk berbasis nikel (stainless steel slab, stainless billet dan stainless steel coil) Indonesia menempati peringkat 1 dunia dengan total ekspor senilai US$1,63 miliar di 2020 dan berada di peringkat 4 dalam produksi dunia.

Dalam laporannya kepada Jokowi, Menteri Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dan masyarakat akan berdampak langsung pada berbagai sektor, baik bagi industri maupun masyarakat.

"Kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dengan masyarakat akan membawa kemajuan bersama dan berdampak langsung pada pertumbuhan industri, penyerapan tenaga kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kewirausahaan, sekaligus meningkatkan infrastruktur sosial masyarakat," paparnya.

PT Gunbuster Nickel Industry merupakan industri smelter yang terletak di Kabupaten Morowali Utara dan diharapkan akan menghasilkan feronikel dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton/tahun. Dengan bertambahnya investasi pada PT Gunbuster Nickel Industry, program hilirisasi mineral berbasis sumber daya alam akan semakin cepat tercapai.

Hal ini melengkapi lini produksi yang sebelumnya dilakukan di smelter PT Obsidian Stainless Steel Konawe, Sulawesi Tenggara. Perusahaan tersebut merupakan smelter penghasil ferronickel dengan kapasitas produksi 2,2 juta ton/tahun dan billet stainless steel dengan kapasitas produksi 3 juta ton/tahun. Sementara, PT Virtue Dragon Nickel Industry merupakan smelter penghasil ferronickel dengan kapasitas produksi 1 juta ton/tahun.

Ketiga perusahaan smelter tersebut akan menjadi bagian rencana pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri dalam peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri. PT Obsidian Stainless Steel, PT Virtue Dragon Nickel Industry, dan PT Gunbuster Nickel Industry secara total telah melakukan investasi sebesar US$8 miliar, serta penyerapan tenaga kerja lebih kurang 27.000 orang.

Turut hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Menteri Perindustrian, Menteri Investasi/Kepala BKPM, Sekretaris Kabinet, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Gubernur Sulawesi Tenggara, Gubernur Sulawesi Tengah, Bupati Konawe, Bupati Morowali Utara, Board of Commissioner PT Gunbuster Nickel Industry, Direktur Utama PT Gunbuster Nickel Industry, dan Direktur Utama PT Virtue Dragon Nickel Industry.



Simak Video "Jokowi Resmikan Smelter Nikel PT GNI: Ini Akan Beri Nilai Tambah"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)