ADVERTISEMENT

Sektor Manufaktur Berpotensi Beri Efek Positif ke Ekonomi RI

Dea Duta Aulia - detikFinance
Kamis, 03 Feb 2022 17:38 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sinyal positif terhadap pemulihan ekonomi terus bertambah di awal 2022. Hal tersebut terlihat dari sektor manufaktur yang semakin tumbuh.

Mengacu pada Laporan Purchasing Managers' Index (PMI) yang diterbitkan IHS Markit, output sektor manufaktur Indonesia kembali di posisi ekspansif sebesar 53,7 pada Januari 2022, lebih tinggi dari bulan Desember 2021 yang mencapai 53,5.

Tak hanya itu, selama lima bulan terakhir, sektor tersebut terus melanjutkan level ekspansi dan masih unggul dari beberapa negara di ASEAN seperti Thailand (51,7), Filipina (50,0), dan Myanmar (48,5).

"Kinerja sektor manufaktur yang terus terekspansif perlu diapresiasi. Pemerintah juga akan terus bekerja keras menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga performa positif ini dapat terus ditingkatkan," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Kamis (3/2/2022).

Untuk mendorong sektor tersebut, pemerintah akan terus berupaya agar prospek dari sektor tersebut dapat dimanfaatkan. Sektor riil misalnya, terjadi peningkatan demand global yang menghadirkan peluang tersendiri.

Airlangga yakin dengan output manufaktur Indonesia ke depan yang diperkirakan semakin bertumbuh, diharapkan prospek permintaan barang ekspor juga akan terus meningkat. Terlebih, IHS Markit mencatat bahwa pesanan barang ekspor Indonesia di Januari 2022 merupakan rekor kenaikan tertinggi jika dibandingkan dengan periode bulan Januari sejak survei PMI dijalankan.

"Untuk mengakselerasi kinerja ekspor dan memanfaatkan momentum yang ada, pemerintah akan terus mendorong program hilirisasi komoditas unggulan, seperti CPO, nikel, bauksit, tembaga, hingga timah. Di samping itu, investasi pada industri 4.0 juga akan terus ditingkatkan sehingga produk-produk ekspor Indonesia ke depan semakin berdaya saing dan bernilai tambah tinggi," jelasnya.

Meskipun begitu, Airlangga menjelaskan, pemerintah juga melakukan antisipasi risiko yang hadir di masa mendatang. Salah satunya yakni karena kenaikan inflasi yang bisa memberikan pengaruh terhadap pemulihan ekonomi nasional.

Berdasarkan data dari International Monetary Fund (IMF) melalui laporan World Economic Forum Januari tahun ini, menyebutkan, kenaikan inflasi merupakan salah satu faktor risiko pemulihan ekonomi di tahun 2022.

Berlanjutnya harga energi yang tinggi disertai gangguan rantai pasok telah mendorong peningkatan inflasi, terutama di Amerika Serikat dan banyak negara Emerging Market and Developing Economies (EMDE). Amerika Serikat sendiri menutup tahun 2021 dengan tingkat inflasi menembus 7% dan merupakan tertinggi sejak Juni 1982.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia atau pihak terkait untuk mengendalikan inflasi. Pemerintah juga melakukan berbagai strategi agar inflasi nasional tetap terkendali.

"Pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia maupun Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk memitigasi berbagai tantangan pencapaian inflasi tahun 2022 baik yang berasal dari global maupun domestik. Penguatan program kerja dan strategi kebijakan pengendalian inflasi di level daerah menjadi strategis dalam mendukung pencapaian inflasi nasional tetap terkendali di tengah risiko-risiko yang dihadapi," jelasnya.

Sebagai informasi tambahan, angka inflasi tercatat sebesar 2,18% (yoy) masih terkendali dalam kisaran sasaran target inflasi tahun 2022 sebesar 3%±1% (yoy) di awal tahun 2022. Jika dilihat secara bulanan, pada Januari inflasi hanya sebesar 0,56% (mtm) sedikit menurun jika dibandingkan pada Desember 2021 lalu.

Angka tersebut tidak terlepas dari pengaruh pergerakan seluruh komponen inflasi dengan komponen inti yang menjadi penyumbang andil tertinggi terhadap inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari yakni sebesar 0,27%. Inflasi inti sebesar 0,42% (mtm) dan merupakan tertinggi sejak Agustus 2019.

Adapun penyebab terjadinya kenaikan inflasi ini pada Januari 2022 yakni karena terjadi karena peningkatan harga komoditas ikan segar, mobil, tarif kontrak rumah dan sewa rumah. Serta ada pula komoditas Volatile Food (VF) yang turut menyumbang inflasi pada Januari 2022 yakni kenaikan harga daging ayam, beras, telur ayam ras dan tomat. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga adalah cabai merah.

(prf/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT