Ekspor CPO Anjlok di Awal Tahun, Kok Bisa?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 25 Feb 2022 15:01 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160 ton minyak mentah kelapa sawit. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Pemerintah menerapkan Domestic Market Obligation (DMO) terhadap minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan domestic price obligation (DPO). Artinya, eksportir harus mengalokasikan 20% produksinya untuk dijual di dalam negeri dengan harga patokan pemerintah.

Peraturan itu mulai berlaku pada akhir Januari 2022. Namun, berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), ekspor CPO (tidak termasuk cangkang, bungkil, dan semacamnya) pada Februari hingga tanggal 22 turun dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

Bahkan, menurut Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman menjelaskan penurunan ekspor sudah terlihat sejak November 2021. Pada Oktober 2021, ekspor CPO mencapai 3,330 juta metrik ton, kemudian turun menjadi 1,672 juta metrik ton pada November, dan naik tipis menjadi 1,850 juta metrik ton pada Desember.

"Kemudian Januari turun lagi menjadi 1,608 juta, dan Februari sampai dengan minggu ketiga ini tadi hanya mencapai 1,178 juta metrik ton. Jadi ada suatu kecenderungan penurunan volume ekspor khususnya mulai akhir tahun 2021 sampai dengan bulan Februari 2022," katanya dalam webinar pelayanan publik dampak kebijakan DMO dan DPO terhadap ekspor CPO melalui saluran YouTube Ombudsman RI, Jumat (25/2/2022).

Hanya saja Eddy tak mengaitkan penurun ekspor CPO hingga minggu ketiga Februari dipengaruhi oleh kebijakan DPO atau tidak.

"Kalau tadi hanya CPO dan CPKO, ini saya gambarkan seluruhnya termasuk di dalamnya adalah cangkang, misalnya cangkang kelapa sawit dan bungkil kelapa sawit, hampir sama itu tadi di mana mulai bulan November 2021 itu terjadi suatu penurunan volumenya sampai dengan Februari tahun 2022 ini," sebutnya.

Total volume ekspor seluruh produk CPO pada 22 Januari 2022 sebesar 2,339 ribu metrik ton, lalu turun pada 22 Februari 2022 menjadi 1,701 metrik ton.

Lebih lanjut, total volume ekspor dari awal Januari hingga 24 Februari 2022 4,04 juta metrik ton. Sedangkan total ekspor sepanjang 2021 mencapai 36,97 metrik ton.

"Di awal tahun 2022 ini khususnya di bulan Januari sampai dengan minggu ke-3 dari Februari itu volume ekspor hanya mencapai 4 juta metrik ton. Jadi terjadi suatu penurunan yang cukup signifikan," tambah Eddy.

(toy/hns)