Duh, BUMN Tambang Ketergantungan Impor Alumina dari India-Australia

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 21 Mar 2022 15:31 WIB
Di kawasan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, berdiri Pabrik Inalum. Di sana ratusan ribu ton alumunium per tahun diproduksi untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Holding BUMN Tambang, MIND ID buka-bukaan bahwa PT Inalum masih ketergantungan impor alumina. Tiap tahun alumina diimpor sebanyak 500 ribu ton. Inalum sendiri adalah anggota dari MIND ID.

"Kita tahu juga bahwa Inalum saat ini ketergantungan impor terhadap alumina. Ketergantungan kita ini kita ini impor 1 tahun itu 500 ribu," kata Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, Dany Amrul Ichdan dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (21/3/2022).

Inalum tiap tahun impor alumina 500 ribu ton yang berasal dari India dan Australia. Dia tak merinci berapa yang diimpor dari masing-masing negara tersebut.

Badan usaha milik negara (BUMN) tersebut dapat menyudahi ketergantungan impor apabila Smelter Grade Alumina Refinery milik Inalum-Antam di Mempawah sudah selesai dibangun. Smelter tersebut mempunyai kapasitas 1 juta ton per tahun.

"Smelter alumina yang ada di Mempawah ini kapasitasnya adalah 1 juta ton. Berarti 500 ribu akan cukup memenuhi kebutuhan Inalum, dan 500 ribunya kita bisa ekspor sehingga kebutuhan dari smelter alumina juga bisa dijalankan termasuk juga offtaker dari bauksit," paparnya.

Inalum akan tetap bergantung pada impor selama proyek smelter di Mempawah masih dibangun. Proyek ini digarap melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), usaha patungan Inalum-Antam.

"Selama ini kita impor dari India dan Australia. Nah, jadi memang ketergantungan kita akan terus tergantung sampai dengan (smelter) ini selesai," tambah Dany.

(toy/zlf)