ADVERTISEMENT

Beredar Bocoran Draft Perpres Industri Gula, Petani: Mau Swasembada atau Monopoli?

tim detikcom - detikFinance
Selasa, 27 Sep 2022 13:01 WIB
Gula Rafinasi
Foto: Gula Rafinasi (M Fakhri Aprizal/Tim Infografis)
Jakarta -

Pemerintah sedang menyusun aturan terkait industri gula dalam rangka swasembada gula konsumsi pada 2025 dan industri pada 2030. Rencana itu diketahui dari bocoran draft Perpres yang beredar di kalangan media.

Hingga berita ini ditayangkan, permintaan konfirmasi yang diajukan detikcom terkait draft Perpres tersebut belum direspons.

Namun, draft Peraturan Presiden (Perpres) yang beredar itu banyak ditentang para petani gula. Pasalnya, dalam salah satu aturan, PTPN (III) mendapatkan kuota impor gula.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mempertanyakan rencana pemerintah memberikan kuota impor gula kristal putih dan atau gula kristal mentah (raw sugar) kepada PT Perkebunan Nusantara III (Persero). Menurutnya, impor akan semakin membuat petani tebu rugi, pasalnya akan menurunkan daya tawar produksi tebu petani.

"Tebu petani siapa yang beli kalau semuanya impor, PTPN III kok disuruh impor, tidak sesuai namanya, perkebunan yang artinya memproduksi bukannya impor," kata Soemitro dihubungi detikFinance.

Menurut Soemitro, hingga akhir tahun 2023 Indonesia tidak perlu lagi impor gula kristal putih (GKP). Hingga akhir tahun 2021, stok gula masih ada 1,1 juta ton. Awal tahun 2022 ada impor raw sugar untuk GKP 980 ribu ton dan 150 ribu ton untuk white sugar.

"Artinya, awal tahun 2022 ada 2,2 juta ton. Bila ditambah dengan produksi GKP tahun ini 2,4 juta ton, maka ada stok 4,6 juta ton. Belum lagi tambahan dari rembesa gula rafinasi di pasar konsumsi. Kasus rembesan ini sudah saya laporkan ke Bareskrim Polri," jelas Soemitro.

Soemitro menegaskan, langkah pemerintah ingin swasembada gula 2025 dengan memberikan kuota impor kepada PTPN III tentunya dipertanyakan.

"Swasembada kok impor, siapa yang diuntungkan? mau monopoli impor gula atau mau swasembada? Swasembada gula itu tidak bisa dilakukan sendiri, petani dilibatkan, dengarkan suara petani. Asal tahu saja, nasib petani tebu itu susah sekarang, tidak dapat subsidi pupuk, harga pupuk naik 300 persen, bagaimana petani mau meningkatkan produksi? Belum lagi harga petani ditekan terus. Kalau impor kan enak tinggal datang. Petani dibiarkan rugi. Sekali lagi kasihan petani kita," keluhnya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT