RI Bisa Belajar dari Swedia soal Kebijakan Rokok

ADVERTISEMENT

RI Bisa Belajar dari Swedia soal Kebijakan Rokok

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 05 Okt 2022 17:33 WIB
ilustrasi vape
Foto: iStock
Jakarta -

Produk tembakau alternatif, seperti kantung nikotin, rokok elektrik, dan produk tembakau yang dipanaskan, dinilai memiliki profil risiko yang lebih rendah daripada rokok. Produk ini pun dimaksimalkan oleh sejumlah negara untuk menurunkan prevalensi merokok sekaligus memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat.

Sharifah Ezzat Wan Puteh, Manajemen Rumah Sakit dan Ekonomi Kesehatan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengatakan produk tembakau alternatif menerapkan sistem pengurangan risiko. Dengan profil risiko kesehatan yang rendah, produk ini menjadi salah satu alternatif untuk menurunkan angka perokok. Selandia Baru menjadi salah satu negara yang mendukung kehadiran produk tembakau alternatif.

"Jika kita ingin melihat negara lain sebagai contoh, Selandia Baru berhasil mengimplementasikan GEG (Generational End Game) karena memiliki sistem pendukung lain yang tersedia untuk beralih ke vape," kata Sharifah yang menjadi narasumber dalam forum forum Evolving Treatment Methodologies in Addiction (ETMA) seperti dikutip dari worldofbuzz.com, Senin (26/9/2022).

Penggunaan produk tembakau alternatif untuk menurunkan prevalensi merokok juga sudah dilakukan oleh Swedia. Berkat pemanfaatan produk tersebut, tingkat kematian terkait konsumsi nikotin di Swedia jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Padahal, prevalensi rokok di Swedia tidak jauh berbeda dengan negara-negara di Benua Biru.

Mengutip data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Karl menyebutkan tingkat kematian akibat kanker paru-paru di Swedia hanya mencapai 87 per 100 ribu kasus kematian. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata tingkat kematian akibat kanker paru-paru di negara-negara Uni Eropa yang mencapai 220, bahkan lebih rendah dari angka minimalnya yang sebesar 91. Tingkat kematian akibat semua penyebab yang berhubungan dengan tembakau di Swedia juga tercatat hanya mencapai 222, lebih kecil dari rata-rata tingkat kematian di Uni Eropa yang mencapai 550.

Narasumber lainnya dalam ETMA, Psikolog dan Pendiri Klinik Berhenti Merokok Bernama Fagerstrom Consulting, Karl Fagerstrom menjelaskan rendahnya tingkat kematian tersebut karena adanya perbedaan cara konsumsi nikotin antara masyarakat Swedia dan masyarakat di negara-negara Eropa lainnya. Masyarakat Swedia lebih cenderung menggunakan produk tembakau alternatif, dalam hal ini Snus atau kantong nikotin. Sementara masyarakat Uni Eropa lainnya cenderung merokok.

"Ketika Anda menggunakan Snus, jumlah asupan nikotinnya sama dengan rokok. Jadi, konsumsi nikotin pengguna Snus tidak lebih rendah dibanding pengguna rokok. Namun, tentu saja efek konsumsinya sangat berbeda," ujarnya.

Perbedaan efek konsumsi ini bahkan diperkuat dengan profil tingkat kematian akibat konsumsi nikotin di kalangan pria dan wanita di Swedia. Berdasarkan data Global Burden Disease Study yang juga dikeluarkan oleh WHO, secara total, tingkat kematian pria akibat semua penyebab terkait tembakau di Swedia mencapai 70, sementara rata-rata tingkat kematian di Uni Eropa mencapai 125.

"Menurut saya, hal inilah yang menyebabkan perbedaan besar (tingkat kematian) pria dan wanita (akibat tembakau di Swedia)," ucap Karl, yang juga merupakan penemu Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND), sebuah alat bantu tes yang dapat menentukan tingkat ketergantungan seseorang terhadap nikotin.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT