Demo Petani Tembakau di Kantor Sri Mulyani Sempat Diwarnai Aksi Lempar Botol

ADVERTISEMENT

Demo Petani Tembakau di Kantor Sri Mulyani Sempat Diwarnai Aksi Lempar Botol

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 28 Nov 2022 10:06 WIB
Aksi Petani Tembakau di Kantor Sri Mulyani Diwarnai Aksi Lempar Botol
Aksi Petani Tembakau di Kantor Sri Mulyani Diwarnai Aksi Lempar Botol/Foto: Anisa Indraini/detikcom
Jakarta -

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur hari ini mendatangi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk melakukan unjuk rasa penolakan kenaikan cukai hasil tembakau (CHT).

Berdasarkan pantauan detikcom, awalnya unjuk rasa berjalan kondusif di mana beberapa orang perwakilan dari APTI berdiri di atas mobil komando sembari melakukan orasi. Tiba-tiba suasana berlangsung panas di mana ada oknum melemparkan botol plastik bekas air mineral.

"Jangan melempar benda apapun dalam kementerian. Tunjukkanlah bahwasanya kita hadir bukan untuk membawa masalah, tapi untuk membawa berkah," ucap orator di depan Kemenkeu, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2022).

Tak lama setelah itu, perwakilan dari asosiasi petani tembakau diterima oleh Kemenkeu. Terdapat sekitar 11 orang yang masuk ke Gedung Kemenkeu sekitar pukul 09.30 WIB untuk melakukan mediasi.

Asosiasi petani tembakau diterima oleh Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo, Sekretaris Jenderal Kemenkeu Heru Pambudi, serta Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Direktorat Jenderal Bea Cukai Kemenkeu Nirwala Dwi Heryanto.

Rombongan petani tembakau kemudian masuk dalam Holding Room Aula Mezanine Gedung Juanda 1 Kementerian Keuangan, Jakarta untuk berdialog bersama terkait keputusan kenaikan CHT sebesar 10% pada 2023 dan 2024.

"Tolong lindungi petani tembakau, tolong perhatikan. Jangan sampai kebijakan para petinggi justru akan membuat sengsara rakyat sendiri. Semoga kebijakan Bu Sri Mulyani hari ini betul-betul membawa manfaat bagi rakyatnya. Yang namanya kebijakan jangan sampai ada beberapa pihak yang dirugikan," kata orator dari luar.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT