Survei Kemenperin Tunjukan Industri di RI Tumbuh Subur, tapi...

ADVERTISEMENT

Survei Kemenperin Tunjukan Industri di RI Tumbuh Subur, tapi...

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2022 18:40 WIB
PT Steel Pipe Industry of Indonesia di Karawang Jawa Barat, Selasa (17/11/2015). Pabrik Spindo Karawang ini menghasilkan pipa baja untuk mendukung industri otomotif, infrastruktur, furniture, properti hingga industri minyak dan gas dengan menggunakan mesin baru yang dapat menghasilkan 4800 ton pipa baja dalam sebulan dari yang biasanya hanya bisa memproduksi 3500 ton. Sedangkan penjualannya hingga akhir Oktober 2015 ini sudah mencapai 313.924 ton dan akan terus bertambah hingga akhir Desember 2015 sebesar 80.000 ton. Rachman Haryanto/detikcom.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kementerian Perindustrian merilis survei indeks kepercayaan industri (IKI). Survei ini dapat memetakan mana industri yang sedang ekspansi dan mana yang terkontraksi atau kinerjanya menurun.

Survei ini akan diisi langsung oleh 2.000 perusahaan yang menjadi responden di 23 sektor industri. Pertama kali survei ini diluncurkan untuk melihat kinerja industri di bulan Oktober 2022.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan dari survei IKI yang pertama dirilis untuk bulan Oktober ini menunjukkan sektor industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat atau ekspansif. Terbukti dari poin indeks yang melebihi 50, dia mengumumkan IKI di bulan Oktober berada di level 50,89 poin.

"Hari ini kita launch hasil survei perdana IKI dan alhamdulillah hasilnya di titik 50,89 poin. Artinya apa? Artinya industri manufaktur ekspansif," ujar Agus dalam peluncuran Survei IKI di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2022).

Dia menjelaskan, apabila indeks IKI berada di atas 50 poin meskipun cuma 0,1 lebih besar dari 50 poin artinya sektor industri mengalami ekspansi. Bila di bawah itu artinya sektor industri mengalami kontraksi atau penurunan kinerja.

"Seperti diketahui itu apabila angkanya di atas 50. Any number di atas 50 poin itu ekspansif meski cuma koma 1," ungkap Agus.

Dia menjelaskan ada 3 variabel perhitungan IKI, mulai dari jumlah pesanan baru, ketersediaan produk, dan frekuensi produksi sebuah barang. Indikator lain akan menyusul masuk perhitungan, misalnya saja jumlah serapan tenaga kerja.

Hanya saja di balik semua capaian kinclong itu, ada sedikit anomali dari data hasil survei IKI yang dikeluarkan Kemenperin. Meskipun secara poin dinyatakan sektor industri ekspansif, namun secara sektoral justru ada lebih banyak sektor yang mengalami kontraksi.

Agus menjabarkan dari total 23 sektor industri yang disurvei, setidaknya hanya 11 yang indikatornya menunjukkan angka positif dan ekspansif. Sementara 12 sektor lainnya, jumlah sektor yang lebih besar, justru terkontraksi.

"Dari 23 yang disurvei ada 11 yang ekspansif, lalu ada 12 yang tertekan atau kontraksi," sebut Agus.

Ketika ditanya lebih rinci soal sektor apa saja yang mengalami kontraksi ataupun yang mengalami ekspansi, Agus enggan menjawab. Dia cuma bilang salah satu yang mengalami ekspansi tinggi adalah sektor alat transportasi.

Cuma Agus mengatakan meskipun sektor yang ekspansif lebih sedikit, kontribusinya ke PDB manufaktur cukup besar. Kira-kira kontribusinya 71,3%.

"Dari data kita miliki 11 sektor ekspansif ini dia representasi 71,3% dari kontribusi PDB manufaktur. Walau 11, lebih sedikit sektornya, tapi dia 71,3% kontribusinya," kata Agus.



Simak Video "Alasan Pemerintah Berani Subsidi Mobil Listrik Sampai Rp 80 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT