Australia hingga Brasil Mau Impor Pupuk RI

Australia hingga Brasil Mau Impor Pupuk RI

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2026 08:38 WIB
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4).
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4)./Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4). Pertemuan itu guna membahas peluang kerja sama di sektor pertanian khususnya terkait impor pupuk urea dari Indonesia.

Sudaryono mengatakan konflik geopolitik global hingga penutupan Selat Hormuz telah mempengaruhi distribusi pupuk dunia karena sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati jalur tersebut. Gangguan itu membuat banyak negara mencari urea.

"Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Indonesia, kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 9,3-9,4 juta ton per tahun. Pada 2026, ditargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton.

ADVERTISEMENT

Menurut Sudaryono, surplus itu membuka peluang Indonesia ekspor ke berbagai negara termasuk Australia. Meski demikian, ia menegaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," tuturnya.

Sudaryono mengklaim minat terhadap urea Indonesia tidak hanya datang dari Australia, melainkan juga dari sejumlah negara seperti India, Filipina, dan Brasil. Pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kemampuan produksi nasional.

Sudaryono menyebut hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia bersifat timbal balik. Indonesia di satu sisi mengekspor urea, namun di sisi lain juga mengimpor bahan baku seperti fosfat termasuk jenis DAP (Diammonium Phosphate) dari Australia.

"Ini hubungan yang resiprokal, kita saling membutuhkan yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat," ujarnya.

Sudaryono memastikan ketersediaan pupuk dalam negeri khususnya pupuk subsidi dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani disebut sebagai indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.

"Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1-2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup," jelasnya.

Ke depan, pemerintah berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional. Hal itu sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global.

"Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar internasional," pungkasnya.

(aid/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads