Follow detikFinance
Kamis, 14 Des 2017 21:50 WIB

Saran Ekonom Agar BUMN Tak 'Berdarah-darah' Bangun Infrastruktur

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Dok Foto: Dok
Jakarta - Pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) nampaknya tidak diimbangi dengan tingkat pendapatan perusahaan BUMN yang merupakan agen pembangunan nasional.

Arus kas perusahaan BUMN karya ini belum aman, meskipun masing-masing perusahaan tersbeut masih mencetak kenaikkan laba. Arus kas yang mulai tergerus terlihat dari debt to equity (DER) alias rasio utang terhadap modal yang mengalami kenaikan.

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyatakan, BUMN karya bisa memanfaatkan tiga instrumen pasar keuangan yang sudah dirancang pemerintah, yakni sekuritisasi, project bonds, dan global IDR.


Pengurus Pusat ISEI, Destry Damayanti mengatakan, seluruh perusahaan BUMN bisa memanfaatkan instrumen tersebut, termasuk para perusahaan pelat merah sektor konstruksi.

"Prinsipnya bisa, karena tergantung BUMN itu kan biasnya punya banyak projek, cash flow dia problem secara keseluruhan karena memang BUMN itu pada saat bersamaan mempunyai pekerjaan yang belum bisa menghasilkan, sehingga projek yang sudah menghasilkan akhirnya harus cover yang belum menghasilkan revenue, dan overall dampak ke holding menjadi besar," kata Desty di Mandiri Club, Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Menurut Destry, para perusahaan pelat merah seharusnya sudah bisa mengelompokan mana proyek yang sudah menghasilkan dan yang masih dalam tahap pembangunan.

"Kalau dia bisa memilah proyeknya, mana proyek yang sudah menghasilkan, lalu dibuat menjadi suatu produk sekuritisasi sehingga dia bisa generate income saat ini dan bisa dipakai untuk membiayai kebutuhan pembangunan yang sekarang," kata Destry.

Selain itu, tiga instrumen pasar keuangan tersebut tidak akan membebani keuangan perusahaan.

"Dengan adanya structure produk membuat mereka dari sisi leverage juga tidak terganggu, mereka juga bisa dapat income dan tidak ada aset yang dijual," ujar dia.


"Jadi sekarang mestinya BUMN-BUMN khususnya kan kita memang tahu BUMN karya, mereka bisa memilah ada berapa proyek yang saat ini mereka tangani, mana yang secara ekonomi sudah bisa menghasilkan, mana yang harus disubsidi. Jadi tidak ganggu penerimaan. Yang penting tinggal kreativitas pimpinannya," sambung dia.

Lebih lanjut Destry menuturkan, masih belum banyaknya BUMN yang memanfaatkan sekuritisasi, project bonds, dan global IDR dikarenakan belum familiarnya instrumen tersebut.

"Karena mereka belum familiar, kalau corporate bonds kan sudah biasa, kalau projek sekuritisasi, project bonds, global IDR jadi butuh waktu untuk pemahamannya, kalau di Jasa Marga kan sudah beberapa kali issues bonds dan pimpinannya menguasai, sehingga cepat," tutup dia. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed