Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 29 Jan 2018 14:27 WIB

Biaya Kereta Kencang JKT-SBY Bengkak Jadi Rp 100 Triliun

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Proyek kereta kencang Jakarta-Surabaya (JKT-SBY) masih terus dibahas, termasuk soal pembiayaan. Proyek itu masih dalam tahap pengkajian (Feasibility Study/FS) dan rencananya akan bangun tahun 2018 ini.

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, mengatakan terkait soal nilai investasi dari proyek tersebut diperkirakan meningkat jadi sekitar Rp 100 triliun. Nilai itu meningkat dari investasi sebelumnya yang sebesar Rp 60 hingga Rp 70 triliun.

Hal itu disampaikannya usai rapat dengan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Panjaitan.


"Kalau anggaran dulu kan Rp 60 triliun, tapi anggaran yang disampaikan sekarang ini kira-kira lebih dari Rp 100 triliun," kata Budi Karya di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Senin (29/1/2018).

Namun, Budi Karya mengatakan bahwa pemerintah berupaya untuk menekan nilai investasi tersebut. Dia ingin kalau proyek tersebut bisa ditekan jadi Rp 80 hingga paling tinggi Rp 90 triliun.

Ada sejumlah upaya yang dilakukan dalam menekan nilai proyek tersebut. Pertama, dengan melibatkan kontraktor nasional dalam proyek itu, serta menggunakan teknologi dalam negeri. Selain itu, jalur lintasan untuk kereta kencang tidak akan dibangun melayang (elevated) seluruhnya agar lebih murah.


"Mengoptimalkan dengan teknologi yang paling optimal. Karena, tadinya mau elevated dari Jakarta ke Surabaya, kan mahal. Elevated itu di bagian-bagian tertentu saja," jelas dia.

Lebih lanjut Budi Karya menegaskan, bahwa nantinya proyek ini tidak akan memberatkan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Dia bilang selain dari pinjaman dari pihak JICA, nantinya modal asing lainnya juga akan masuk dalam proyek itu, namun dia belum bisa merinci dari mana asalnya.



Dari sana, kata Budi Karya, pemerintah akan membentuk otoritas khusus yang mengelola dana pinjaman untuk kereta kencang Jakarta-Surabaya.

"Nanti ditanya kepada Pak Luhut. Itu akan dibangun semacam otoritas, otoritas itulah yang akan menerima pinjaman dan yang berperan dalam pekerjaan-pekerjaan itu," jelasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed