Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 26 Jun 2018 11:53 WIB

Kenapa Bangun LRT Perlu Tiang? Begini Lho Penjelasannya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menduga ada mark up di proyek light rail transit (LRT) di Indonesia. Sebab, pembangunan LRT menggunakan tiang-tiang yang tinggi. Fahri pun mempertanyakan kenapa LRT tidak dibangun di bawah tanah supaya tidak perlu tiang karena tiang itu biayanya mahal.

Pengamat Transportasi Darmaningtyas memaparkan, pemanfaatan tiang sendiri tergantung kondisi geografis seperti tinggi rendahnya tanah.

"Kalau sudah pernah ke Palembang baru tahu problem teknis di lapangan. Kalau biaya tinggi-tinggi terkait kondisi geografis, kondisi lapangan," kata dia kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (26/6/2018).



Dia menuturkan, pembangunan LRT tidak bisa dipukul rata. Sebab, faktor geografis juga berpengaruh. Bukan hanya itu, faktor politik juga turut berkontribusi pada pembangunan LRT.

Misalnya saja China, sistem politik di sana membuatnya tidak mengalami kendala soal pembebasan lahan. Di Indonesia, pembebasan lahan mahal sehingga turut berkontribusi pada biaya konstruksi.

"Yang itu tidak ada di negara-negara maju, apalagi China, China kan komunis ke dalamnya komunis penuh kalau negara perlu bangun LRT bangun saja, pembebasan lahan nggak mikir. Kita itu masalahnya di situ ada biaya-biaya yang non teknis tapi harus dikeluarkan dan dimasukkan komponen kontruksi," jelasnya.

Tak berhenti di sana, penunjang biaya konstruksi lain seperti biaya keamanan pada proyek itu sendiri.

"Komponen biaya itu ada komponen bebasin lahan, ada komponen misalkan membayar preman-preman yang mengganggu kan banyak itu. Kalau orang proyek itu diperhitungkan juga, menjaga keamanan material, menjaga keamanan bangunan," tutupnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed