Laporan dari Fukuoka

Betahnya Nongkrong Berjam-jam di Stasiun Kereta Jepang

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Selasa, 27 Nov 2018 09:36 WIB
Foto: Eduardo Simorangkir
Fukuoka - Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem transportasi, khususnya kereta terbaik di dunia. Negara Matahari Terbit tersebut telah lama dikenal dengan berbagai moda transportasi relnya yang begitu maju dalam operasi dan teknologinya.

Transportasi kereta api dimulai di Jepang pada tahun 1872. Saat ini, Jepang memiliki 27.607 km jalur kereta yang beroperasi, yang dimiliki oleh kelompok perusahaan Japan Railway (JR) dan beberapa perusahaan kereta swasta lainnya.

Jepang memiliki jaringan transportasi umum yang efisien, terutama di wilayah metropolitan dan antara kota-kota besar. Transportasi publik di Jepang dicirikan oleh ketepatan waktu, pelayanan yang luar biasa, dan kerumunan besar orang yang menggunakannya.


Membuktikan hal tersebut, detikFinance mendapatkan kesempatan eksklusif untuk mengunjungi sejumlah stasiun kereta terbaik yang ada di Jepang. Salah satunya adalah Stasiun Hakata atau JR Hakata City di Prefektur/Provinsi Fukuoka yang dioperasikan oleh JR Kyushu.

JR Kyushu merupakan salah satu perusahaan perkeretaapian swasta di Jepang yang mengoperasikan sebagian besar jalur kereta di wilayah Pulau Kyushu. JR Kyushu mengoperasikan salah satu stasiun kereta terbesar di Jepang, yakni Hakata City.

Stasiun yang memiliki luas 200.000 m2 ini menjadi hub yang mengintegrasikan sejumlah moda transportasi, mulai dari metro subway, bus hingga kereta cepat Jepang, shinkansen. Tak hanya itu, stasiun yang memiliki gedung 10 tingkat ini juga menjadi salah satu lokasi stasiun berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) terbaik di Jepang.

Saat Jepang Bikin Betah Nongkrong di Stasiun Kereta Berjam-jamFoto: Eduardo Simorangkir

Stasiun Hakata sendiri mulai dibuka pada April 1975. Namun seiring dengan berkembangnya JR Kyushu, stasiun ini mulai dirombak menjadi enam kali lebih besar dibanding saat awal, dan dibuka baru sejak Maret 2011 atau bersamaan dengan dibukanya jalur Kyushu Shinkansen.

Jika di Indonesia sebuah stasiun kereta hanya diisi oleh gedung stasiun dan peron tempat menunggu kereta, maka di Hakata City sama sekali berbeda. Seperti namanya, Hakata City ibarat sebuah kota yang terintegrasi di dalam satu kawasan dan memiliki ruang-ruang komersial yang menarik perhatian pengunjung di setiap lantai gedungnya.

JR Kyushu menggabungkan fungsi stasiun menjadi kawasan yang saling terintegrasi manfaatnya. Adanya ruang-ruang ritel seperti restoran, supermarket, toko suvenir, bioskop, exhibition hingga department store ternyata membuat stasiun ini tak pernah sepi.

"Saat kita mengembangkan stasiun, jangan khawatir ada pembeli atau tidak yang akan datang. Karena sudah pasti mereka akan datang," kata Director General Manager Sales Departement/Real Estate Transaction Specialist JR Hakata City, Yusuke Nigo dalam sebuah paparan di Stasiun Hakata City, Fukuoka, Jepang, Senin (26/11/2018).


Usaha tersebut memang tak sia-sia. Dari total pendapatan JR Kyushu, bisnis non fare box atau non railway berhasil menyumbangkan kontribusi lebih dari 60%, sementara kontribusi dari penjualan tiket kereta tak lebih dari 40%.

Hal ini terbukti dari jumlah penumpang per hari stasiun hanya sekitar 40.000 orang, sementara jumlah pengunjung stasiun per hari mencapai 190.000 orang. Penjualan dari tenant bahkan mencapai angka JPY 113 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun pada 2017.

Saat Jepang Bikin Betah Nongkrong di Stasiun Kereta Berjam-jamFoto: Eduardo Simorangkir

detikFinance merasakan sendiri betapa luasnya stasiun tersebut. Desain stasiun yang dibuat begitu futuristik dan megah membuat pengunjung betah berlama-lama berada di stasiun, sehingga penjualan lebih dari 400 tenant yang ada di dalamnya pun laris manis.

"Di Jepang, moda transportasi utamanya memang kereta, terutama di kota-kota besar. Sehingga yang harus dipikirkan adalah bagaimana keuntungannya dengan pengembangan wilayah di daerah stasiun," kata Nigo.

Keputusan mengembangkan Stasiun Hakata City sendiri cukup tepat. Meski dibangun dengan biaya JPY 100 miliar kala itu, namun stasiun ini sukses menjadi gerbang masuk Fukuoka karena jaraknya yang juga tak jauh dari bandara dan pelabuhan.


Satu perbedaan penting antara kereta api Jepang dan negara-negara maju lainnya memang karena sebagian besar layanan kereta api Jepang berorientasi pada penumpang, dengan operasi pengangkutan hanya memainkan peran yang sangat kecil.

Fitur kunci lain dari sistem transportasi Jepang adalah bahwa sistem itu dibangun untuk tumbuh dan berkembang. Jalur kereta api jarang dibangun dengan trek tunggal, tetapi banyak yang menggunakan tiga atau empat jalur untuk memungkinkan layanan ekspres.

Jalur kereta bawah tanahnya langsung terhubung dengan jalur kereta komuter, sehingga memungkinkan layanan tanpa batas lintas wilayah. Selain itu, inovasi di bidang teknologi membawa kereta-kereta Jepang terus bersaing, melaju kencang di antara yang lainnya.


Tonton juga 'Nyaris Rampung, Begini Penampakan Stasiun MRT Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]

Saat Jepang Bikin Betah Nongkrong di Stasiun Kereta Berjam-jam
(eds/ara)