Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 07 Okt 2019 11:10 WIB

Infrastruktur RI Masih Kalah Saing Dari Vietnam hingga Thailand

Trio Hamdani - detikFinance
Ilustrasi/eFoto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Ilustrasi/eFoto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan daya saing Indonesia di bidang infrastruktur masih kalah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Meskipun Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menggenjot pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir, nyatanya kata Lembong Indonesia masih mengalami defisit infrastruktur.

"Meskipun kita sudah banyak membangun infrastruktur dalam periode pertama Pak Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, defisit infrastruktur yang melanda negara kita masih sangat besar sekali," kata dia di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (7/10/2019).

Dia menjelaskan bahwa Indonesia memang sekarang sudah dapat merasakan manfaat dari pembangunan infrastruktur, mulai dari tol atau jalan bebas hambatan hingga peningkatan infrastruktur kebandaraan. Tapi faktanya RI masih ketinggalan dari negara pesaingnya.

"Kalau dilihat dari posisi pesaing kita, dibandingkan negara-negara tetangga kita, masih belum sepenuhnya mengejar ketertinggalan misalnya dibandingkan Malaysia, Thailand, dan Vietnam," jelasnya.



Lembong menyatakan bahwa meskipun Indonesia berlari kencang untuk membangun infrastruktur, negara-negara pesaing pun tidak diam saja. Mereka juga terus menggenjot pembangunan infrastruktur di negaranya.

"Soal defisit infrastruktur kita, meskipun kita lari kencang dan kerja keras untuk terus membangun infrastruktur, negara tetangga, negara saingan kita kan tidak berdiri diam, mereka juga lari kencang, mereka juga gencar mengembangkan infrastruktur," ujarnya.

Dia mencontohkan, saat ini Thailand sedang menggarap proyek Eastern Economic Corridor, di mana yang menjadi tulang punggungnya adalah high-speed railway line atau jalur kereta cepat senilai US$ 33 miliar. Jalur kereta cepat tersebut akan menyambungkan dari selatan Thailand sampai masuk ke Tiongkok.

Oleh karena itu, meskipun lima tahun ke depan Indonesia akan fokus mengembangkan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur juga tidak boleh dikesampingkan.

"Program infrastruktur harus, bukan hanya jalan tol, kalau bisa diakselerasi lebih cepat dan lebih banyak lagi," tambahnya.



Simak Video "BKPM Patok Harga Nikel Dalam Negeri US$ 30 Per Metrik Ton"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com