Infrastruktur Bisa Selamatkan RI dari Jebakan Kelas Menengah

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 11 Jul 2020 17:30 WIB
Sejumlah pekerja di proyek LRT di kawasan Kuningan, Jakarta, bekerja keras menyelesaikan tugas. Bak Spiderman, mereka bergelantungan mempertaruhkan nyawa.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Direktur Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur DJPPR Kementerian Keuangan Brahmantyo Isdijoso mengatakan pembangunan infrastruktur bisa selamatkan Indonesia dari jebakan negara berpenghasilan menengah alias middle income trap.

"Dalam jangka pendek menengah harus memanfaatkan infrastruktur untuk melepaskan dari middle income trap," kata Brahmantyo dalam acara webinar Prodeep Institute via virtual, Sabtu (11/7/2020).

Brahmantyo mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk keluar dari jebakan tersebut. Sejak 2019, stok infrastruktur nasional naik menjadi 43% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut naik dari posisi di tahun 2015 yang sebesar 35%.

Saat ini, dikatakan Brahmantyo pemerintah masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Namun, kebutuhan dana yang besar membuat pemerintah harus kreatif untuk memenuhinya. Apalagi, di tengah pandemi Corona.

"Kita sudah punya pengalaman sampai 2019 akhir kita punya modal cukup untuk menjadi bekal melakukan jump start untuk keluar dari middle income trap," ujarnya.

Senada diungkapkan Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad. Dia bilang, pembangunan infrastruktur sangat mendorong ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran.

"Menarik pada dasarnya memang sebuah infrastruktur berpengaruh ke ekonomi besar, baik PDB, pajak pusat, pajak daerah, biaya transaksi, secara finansial jalan tol tapi kalau dilihat ekonomi besar sekali potensinya dan ini saya kira semua proyek infrastruktur belum layak tapi dia menarik demand," kata Tauhid.

Saat ini, Indonesia sudah berstatus upper middle income country atau negara berpenghasilan menengah ke atas. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan status tersebut justru sebagai tantangan pemerintah dalam menjaga ekonomi nasional ke depannya.

"Meskipun sudah masuk sebagai upper middle income country tapi tidak bisa begitu saja masuk ke high income, banyak negara yang masuk upper middle namun selama 3 dekade tidak bergerak, artinya terperangkap di sini," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama DPD secara virtual, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Sri Mulyani mencatat hanya sedikit negara yang berhasil keluar dari upper middle income country, seperti Singapura dan Korea Selatan (Korsel).

"Itu yang bisa naik, bahkan Malaysia, Brasil, China, hingga Thailand belum bisa," jelasnya.

Oleh karena itu, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjadikan penobatan Bank Dunia kepada Indonesia menjadi tantangan pemerintah di tahun-tahun selanjutnya.



Simak Video "Melihat Lagi BJ Habibie Bicara tentang Infrastruktur Negeri"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)