Megawati Soroti Halte TransJ Dibakar, Biaya Bikinnya Bisa Rp 3 M

Eva Safitri - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 20:50 WIB
Megawati Soekarnoputri (Dok. PDIP)
Foto: Megawati Soekarnoputri (Dok. PDIP)
Jakarta -

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menanyakan biaya pembangunan halte TransJakarta Djarot Syaiful Hidayat. Pertanyaan tersebut dilontarkan untuk menyikapi halte yang dirusak bahkan dibakar saat demo beberapa waktu lalu.

Megawati mengatakan itu saat sambutannya di acara peresmian Kantor PDIP secara virtual. Dalam acara itu, Djarot sedang berada di samping Megawati.

"Nah, ini ada Pak Djarot, satu halte dibangun berapa biayanya?" tanya Megawati Rabu (28/10/2020).

Pria yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta itu lalu menjawab biaya yang dibutuhkan.

"Bisa sampe Rp 3 miliar, Bu," jawab Djarot.

"Tuh, 3 miliar, mungkin sekarang dengan kenaikan inflasi. Kalau ibu-ibu patokannya harga emas gitu. Mana mungkin lagi mau dibenerin itu 3 miliar cukup. Coba bayangkan. Itu rakyat siapa ya. Itu yang namanya anak-anak muda? Saya ngomong gini itu dalam Sumpah Pemuda lho," sambung Megawati.

Dirinya pun berkomentar soal demo yang terjadi belakangan ini.

"Saya bilang ngapain sih kamu demo-demo. Kalau enggak cocok ,pergi ke DPR. Di sana ada RDP itu terbuka bagi aspirasi. Kalian ini orang politik atau bukan.... Sekarang kamu bayangkan keluargamu, anak-anakmu dibuat seperti itu. Kalau enggak ada rasa sakit hati, bohong! Manusia sama aja, dibuat Allah SWT itu sama. kita yang membuatnya berbeda. Camkan lho," kata Megawati.

Megawati mengaku sudah tidak tahan dengan tindakan anarkis yang terjadi saat demonstrasi. Dia menyayangkan halte yang dibuat dengan anggaran besar dirusak begitu saja dengan para pendemo.

"Ini ketua umum kan jarang ngomong. Tapi sekali saya ngomong saya enggak tahan. Masyaallah, susah-susah bikin halte, enak aja dibakar-bakar, emangnya duit lo? Ditangkap enggak mau. Ini gimana ya. Aku sih pikir lucu banget Indonesia sekarang," ujarnya.

Megawati kemudian membandingkan dengan pemuda zaman dahulu, yang berani bikin sumpah untuk bersatu memperjuangkan negara. Dia menilai keadaannya berbeda dengan saat ini.

"Ya bayangin zaman dulu kok bisa ya pemuda, karena tertekan, karena belum merdeka dia sampai berani bikin sumpah. Ayo kalau kalian hari ini bisa nggak bikin sumpah kayak gitu. Waduh pikirannya zaman dulu lho sampai bersatu bikin sumpah, eh zaman penjajahan ditangkap lah. Ini udah merdeka, dirusak sendiri," tuturnya.

(toy/dna)