Desain Trase Tol Yogya-Solo ke Bandara Kulon Progo Berubah

Jauh Hari Wawan - detikFinance
Kamis, 17 Des 2020 16:39 WIB
Proyek pembangunan jalan tol Yogyakarta-Solo terus berlanjut meski di tengah pandemi COVID-19. Proyek itu saat ini memasuki tahap pematokan lahan.
Foto: Ragil Ajiyanto: Penampakan Lahan Proyek Tol Yogya-Solo yang Sudah Dipatok
Sleman -

Desain jalan tol Yogyakarta-Solo seksi 3 yaitu pada trase Yogya-Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport) berubah. Trase jalan tol itu berada di wilayah Padukuhan Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Kementerian PUPR Wijayanto menjelaskan desain awal tol Yogya-YIA itu awalnya berdampak pada pondok pesantren di kawasan Mlangi dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa Yogyakarta). Oleh karena itu, dengan berbagai pertimbangan akhirnya trase diubah.

"Pesantren di Mlangi dan Unisa awalnya kena. Namun, setelah adanya desain baru ini, pondok pesantren maupun Unisa tidak kena lagi," kata pria yang akrab disapa Totok saat dihubungi wartawan, Kamis (17/12/2020).

Ia menjelaskan, rencana awal di daerah itu desain jalan tol dibuat at grade. Setelah adanya perubahan desain dibuat menjadi elevated dan mengalami pergeseran.

"Rencana awal, di wilayah Mlangi tol didesain at grade (menapak). Namun, pada desain baru tol akan elevated (melayang) dan mengalami pergeseran rute sepanjang 1,6 km," paparnya.

Dia mengakui jika pergantian desain ini memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Hanya saja, ia mendapatkan pesan dari pemerintah pusat untuk bisa menghindari dampak sosial yang terlalu besar.

"Kita diberi pesan untuk menghindari dampak sosial yang lebih besar. Memmang tidak akan memuaskan semua pihak. Seperti di Mlangi ini kan wisata religi, nah itu yang kita utamakan," jelasnya.

Perubahan desain jalan tol juga mengakibatkan pemerintah berhitung ulang. Apalagi dengan desain baru yang dibuat elevated atau melayang biaya yang dikeluarkan menjadi membengkak.

"Pergantian at grade menjadi elevated akan menambah biaya hingga Rp 300 miliar," ungkapnya.

Diubahnya desain trase tol di Mlangi ini tak lepas dari sejumlah masyarakat yang merasa keberatan. Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nur Iman Mlangi, Muslih Mukhtar mengatakan sebelumnya ada ponpes besar yang terdampak tol. Masyarakat juga telah sepakat, agar desain jalan tol yang melewati Mlangi digeser.

"Sebelumnya kami menyampaikan keberatan. Tapi trase yang baru sudah tidak lagi mengenai ponpes. Cuma ada beberapa yang masih terkena di trase baru nantinya, seperti masjid di Blendangan kena. Itu yang nanti akan kami bicarakan lagi," katanya saat dihubungi wartawan hari ini.

(hns/hns)