Jakarta Terendam Banjir, Normalisasi Ciliwung Harus Dikebut

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 21 Feb 2021 16:18 WIB
Foto udara suasana wilayah bantaran sungai Ciliwung yang belum dinormalisasi (atas) dan yang sudah dinormalisasi (bawah kanan) di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Minggu (5/1/2020). Rencana pembangunan tanggul normalisasi atau naturalisasi yang menjadi program Gubernur Anies Baswedan hingga saat ini belum mencapai target yaitu hanya 16,19 km dari total 33,69 km dikarenakan terkendala pembebasan lahan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jakarta -

Jakarta kembali terendam banjir. Padahal, Jakarta punya proyek penanganan banjir salah satunya normalisasi Sungai Ciliwung.

Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Bob Arthur Lombogia menjelaskan, normalisasi Sungai Ciliwung dilakukan sepanjang 33 km tapi yang terealiasi sampai saat ini baru 16 km. Realisasi ini tak mengalami perubahan sejak 2018 lalu.

"Jadi kalau Ciliwung kita mau normalisasi rencananya 33 km, tapi baru terealisasi kurang lebih 16 km, jadi 17 km masih akan dilaksanakan. Nanti bekerjasama dengan pemerintah DKI untuk penanganan pemerintah DKI. Sementara dengan kita berupaya untuk pemda yang akan membebaskan lahannya 17 km. Nanti kami lanjutkan kalau sudah bebas supaya kita kerjakan sekaligus," jelasnya kepada detikcom, Minggu (21/2/2021).

Pembebasan lahan sendiri merupakan tugas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sementara, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian PUPR bertugas mengeksekusi pembangunan dalam normalisasi tersebut.

Dia berharap, normalisasi ini bisa segera dilakukan agar daerah-daerah rendah sekitar Ciliwung tak terendam air.

"Diharapkan kalau tanah sudah bebas ya kita bisa tuntaskan kalau tidak bisa normalisasi kali ciliwung akan banyak daerah-daerah rendah yang kita lihat sekarang sering mengalami genangan di sepanjang Sungai Ciliwung mulai dari hulu bisav kita amankan agar supaya masyarakat merasakanlah program tersebut," jelasnya.

Bob sendiri mengaku tak hafal wilayah mana saja yang sudah dinormalisasi. Lebih lanjut, dia menjelasan, normalisasi sendiri merupakan upaya memperbesar kapasitas tampung air, bisa memperdalam ataupun mendalamkan sungai.

"Kalau penanganan banjir ada beberapa macam cara, kalau normalisasi adalah itu memperbesar kapasitas tampungan, cara memperbesar kapasitas tampungan dengan cara memperlebar sungai dan memperdalam sungai itulah normalisasi," katanya.

"Kalau kita meninggikan ya kita tanggul banjir, kalau tidak cukup lahannya area sungainya untuk sesuai kebutuhan dengan debit yang kita rencanakan, ya kita bantu dengan tanggul. Ada beberapa tempat tertentu bisa bantu dengan tanggul kalau space-nya tidak cukup, terutama daerah cekungan," sambungnya.

Sebagai informasi, dalam catatan detikcom Februari 2020 lalu, Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Jarot Widyoko saat itu mengatakan proyek normalisasi Ciliwung sudah vakum alias berhenti sementara sejak tahun 2018. Terkendalannya pembebasan lahan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi masalah utamanya.

Dari total 33,5 kilometer (km) bantaran sungai yang harus dinormalisasi, baru 16 km saja yang selesai.

"Ciliwung belum ada lagi pembebasan lahan karena belum ada pemberitahuan. Sekarang ya berhenti (pengerjaannya) karena tidak ada lahan (kosong) yang dikerjakan. Dari dulu 33,5 km baru 16 km (yang dinormalisasi), itu saja," kata Jarot kepada detikcom, 27 Febuari 2020.



Simak Video "Diguyur Hujan Deras Jakarta (Masih) Banjir"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/dna)