Begini Asal Muasal Istilah Harta Karun

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 14 Mar 2021 10:52 WIB
Warga saat berburu harta karun sisa Kerajaan Sriwijaya
Ilustrasi harta karun Foto: dok. Istimewa
Jakarta -

Istilah harta karun pasti sudah sering didengar. Benar, harta karun adalah benda-benda bernilai tinggi yang tenggelam atau berada di dalam perut bumi. Namun di balik istilah tersebut, apakah Anda sudah tahu asal usul harta karun?

Istilah harta karun sebenarnya berasal dari seorang sepupu Nabi Musa A.S yang bernama Qarun. Kisahnya ini pun dapat dilihat dalam surah al-Qashash (28) ayat 76-82.

Qarun merupakan anak dari Yashhar yang merupakan adik dari ayahnya Nabi Musa yang bernama Imran. Musa dan Qarun merupakan keturunan Nabi Ya'kub.

Semasa hidupnya, Qarun merupakan orang yang miskin dan saking miskinnya dia tidak dapat memenuhi nafkah anak-anaknya yang berjumlah banyak.

Berawal dari kondisinya yang miskin, Qorun pun akhirnya meminta kepada Nabi Musa untuk mendoakannya untuk memiliki harta benda yang sangat berlimpah. Qorun meminta Nabi Musa mendoakan langsung agar permintaannya didengar langsung oleh Allah SWT.

Karena Nabi Musa mengetahui bahwa sosok Qorun merupakan anak yang saleh, Allah SWT pun mengabulkan doa Musa. Akhirnya Qorun berlimpah harta, mulai dari emas, perak, permata, rubi, serta perhiasan dalam berbagai bentuk.

Hidup bergelimang harta pun membuat Qorun menjadi sombong. Dia menyalahgunakan pemberian dari Allah SWT. Setelah memiliki banyak harta, Qorun mengatakan kepada semua orang kalau barang-barang tersebut didapat karena kepintarannya.

Harta yang dimilikinya pun menjadikan Qorun sebagai tukang pamer atau riya. Karena, dia selalu menunjukkan semua harta yang dimilikinya.

Qorun sering mengenakan jubah mewah yang berbeda-beda setiap keluar rumah. Dia memiliki banyak kuda, tentara pribadi, bodyguard, istana. Intinya, harta yang diberikan Allah SWT kepada dirinya tidak terhitung.

Namun akibat kesombongan dan keangkuhannya, membuat dirinya lupa akan janji untuk lebih khusyuk beribadah kepada Allah SWT, bahkan dirinya tidak mendengarkan nasihat para mukmin yang meminta dirinya lebih bersyukur atas karunia yang didapatnya.

Dia justru menyombongkan diri dan menyebutkan bahwa harta yang didapatnya ini berkat kejeniusannya. Hal ini seperti yang dikutip dalam surah al-Qashash ayat 78:

"Qarun menjawab (dengan sombongnya): Aku diberikan harta kekayaan ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku. (Kalaulah Qarun bijak pandai) tidakkah dia mengetahui dan pandai memahami, bahawa Allah telah membinasakan sebelumnya, dari umat-umat yang telah lalu, orang-orang yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta kekayaan ? Dan (ingatlah) orang-orang yang berdosa (apabila mereka diseksa) tidak lagi ditanya tentang dosa-dosa mereka, (kerana Allah sedia mengetahuinya)."

Hingga suatu ketika, Nabi Musa diperintahkan Allah untuk mengerjakan zakat. Dia pun langsung mengutus salah seorang pengikutnya untuk meminta zakat dari Qorun. Hasilnya nihil, Qorun justru marah dan tidak memberikan sedikit pun hartanya untuk zakat.

Hingga pada akhirnya, Allah menjatuhkan azab dengan menenggelamkan harta kekayaan Qarun di dalam bumi. Sampai saat ini, nama Qorun diabadikan jika seseorang menemukan sebuah harta terpendam. Jika ada yang menemukannya, maka bisa disebut menemukan 'Harta Karun'. Kira-kira begitulah asal usul istilah harta karun.

(hal/zlf)