Luhut Mau Bangun LRT di Malang, Kereta Gantung di Batu

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 27 Apr 2021 10:17 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: KEMENKO MARVES
Jakarta -

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bicara pembangunan transportasi massal untuk kota Malang, Jawa Timur. Dia mengatakan LRT akan dibangun di Malang.

Pembangunan LRT merupakan permintaan dari Pemerintah Kota Malang. Luhut berjanji akan membantu memfasilitasi hal itu. Membangun LRT pun dinilai Luhut tidak sulit-sulit amat, pasalnya sudah ada pengalaman pembangunan di Jakarta.

Hal ini diungkapkan Luhut dalam dialog bersama tiga kepala daerah di kawasan Malang Raya, yakni Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Wali Kota Malang Sutiaji, dan Bupati Malang HM Sanusi.

"Kita akan bantu fasilitasi untuk pembangunan LRT karena kita sudah ada pengalaman buat LRT di Jakarta, jadi kita sudah tahu titik-titiknya sehingga ndak perlu impor dari luar," pungkas Luhut dalam keterangannya, dikutip Selasa (27/4/2021).

Bertolak dari pengalaman di Jakarta, menurut Luhut, Indonesia sudah mampu untuk membuat LRT sendiri. Khususnya, unit kereta yang digunakan, pabrik PT INKA di Madiun mampu memproduksi.

"Saya pikir dengan pengalaman LRT di Jakarta kita sudah bisa buat dari Madiun, jadi sudah cukup. Itu anak-anak bangsa yang buat kereta apinya dan semuanya. Nah saya mohon Malang, karena banyak universitas-universitas bisa dilibatkan dalam konteks ini," papar Luhut.

Luhut juga bicara soal pembangunan di Kota Batu, di sana pemerintah berkomitmen untuk memfasilitasi pembangunan kereta gantung. Dia yakin, pembangunan proyek ini akan jalan karena dia mendengar bahwa masyarakat pun ikut terlibat dengan menanamkan investasi disana.

"Kereta gantung ini akan kita bantu follow up tadi sudah sampai Desa Jeru itu ada beberapa fase. Nanti kebutuhannya akan dihitung," tambahnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Simak juga 'Deretan Proyek Infrastruktur Jokowi yang Mandek Gegara Corona':

[Gambas:Video 20detik]



Soal dana yang dibutuhkan, dari paparan yang disampaikan deputinya, kebutuhan biaya proyek ini mencapai Rp 470 miliar. Dia mengatakan biaya proyeknya cukup masuk akal dan tidak terlalu besar, hanya saja pemerintah akan tetap melihat sisi penghematan biayanya.

"Tadi Seto sudah sampaikan, kebutuhannya Rp 470 miliar. Saya kira angka itu tidak terlalu besar, ini bisa dilakukan apalagi dengan pengalaman di Jakarta itu mengajari kita untuk bisa menghemat cost," kata Luhut.

Lebih lanjut, dalam kesempatan itu, Luhut juga menyinggung soal dukungan untuk UMKM. Pemerintah sudah menggagas program Bangga Buatan Indonesia (BBI), salah satu tujuannya untuk membuat UMKM melakukan go online.

"UMKM ini adalah backbone ekonomi, jadi mereka harus onboarding atau masuk ke platform online," kata Luhut.

Tak ketinggalan, Luhut juga mengatakan akan memfasilitasi akses permodalan untuk UMKM. Dana di perbankan dinilai cukup banyak sehingga akan cukup untuk membantu permodalan UMKM.

"Nanti kita akan fasilitasi supaya bisa dapat pendanaan. Nanti kita lihat, mestinya bisa sih karena dana cukup banyak di perbankan kita," ujar Luhut.

(hal/ara)