Pengembangan Pelabuhan Anggrek Gorontalo Dibangun dengan Skema KPBU

Erika Dyah - detikFinance
Jumat, 30 Jul 2021 20:24 WIB
Penandatangan KPBU oleh Kemenhub
Foto: Kemenhub
Jakarta -

Pembangunan Pelabuhan Anggrek di Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo akan dilakukan dengan pendanaan kreatif non APBN melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Hal itu ditandai dengan penangatangan perjanjian kerja sama tersebut oleh Kementerian Perhubungan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyaksikan langsung penandatanganan kerja sama yang dilakukan antara Dirjen Perhubungan Laut, Agus H. Purnomo dengan Direktur Utama PT Anggrek Gorontalo International Terminal, Hiramsyah S. Thaib di Kantor Kemenhub, Jakarta.

Budi mengungkap Direktur Jenderal Perhubungan Laut selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) telah menetapkan Konsorsium Anggrek Gorontalo International Terminal pada Jumat (18/6) lalu. Berdasarkan penetapan tersebut, lelang proyek pembangunan Pelabuhan Anggrek dimenangkan oleh PT Gotrans Logistics International, PT Anugerah Jelajah Indonesia Logistic, PT Titian Labuan Anugrah, dan PT Hutama Karya (Persero).

"Meskipun di tengah pandemi, tetapi kita terus berkomitmen melanjutkan pembangunan. Saya bersyukur dan senang, karena pembangunan Pelabuhan Anggrek ini telah memasuki babak baru yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama pada hari ini," jelas Budi dalam keterangan tertulis, Jumat (30/7/2021).

Menurutnya, penunjukan pemenang lelang proyek pembangunan ini telah melalui serangkaian tahap pengadaan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

"Pemenang proyek ini tentunya memiliki kredibilitas untuk mengembangkan pelabuhan ini. Kami didukung oleh Bappenas dan Kemenkeu berkomitmen mendukung pembangunan sampai dengan pengelolaannya. Diharapkan dua sampai tiga tahun mendatang, pelabuhan ini dapat menjadi kebanggaan dari masyarakat Gorontalo dan sekitarnya," ungkapnya.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Laut Agus H. Purnomo mengatakan Pelabuhan Anggrek merupakan pelabuhan pengumpul yang berada di Provinsi Gorontalo. Ia menambahkan Pelabuhan Anggrek melayani kegiatan bongkar muat multipurpose yang saat ini diselenggarakan langsung oleh Kantor Unit Penyelenggara Kelas II Anggrek.

"Pelabuhan Anggrek memiliki daya tarik tersendiri bagi pihak swasta/Badan Usaha mengingat potensi hinterland (pengembangan kawasan sekitar) yang mendukung, di antaranya berada di area perkembangan komoditi pertanian dan berada Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Gorontalo-Paguyaman-Anggrek-Kwandang (Gopandang)," terangnya.

Agus menilai peran badan usaha baik BUMN maupun swasta menjadi vital di tengah keterbatasan APBN. Sebab, dukungan dari berbagai pihak dapat membantu pemerintah untuk tetap mengakselerasi pembangunan infrastruktur di Indonesia, khususnya pelabuhan.

Untuk itu, lanjut Agus, Kemenhub memberikan kesempatan kepada badan usaha untuk berperan dalam pembangunan dan pengembangan infrastruktur pelabuhan.

Ia pun mengungkap adanya nilai investasi kerja sama sebesar Rp 1,4 Triliun dan biaya operasional sebesar Rp 5,2 Triliun yang akan dikerjasamakan selama 30 tahun. Adapun besaran pendapatan konsesi 2,5% per tahun dari Pendapatan Kotor dapat dinaikkan secara progresif serta pembagian kelebihan keuntungan (clawback) sebesar 50% disetorkan oleh Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur.

Agus menyebutkan ruang lingkup penyelenggaraan proyek KPBU meliputi beberapa hal antara lain penyediaan dermaga untuk peti kemas yang dapat mengakomodir kapal bertambat sebesar 30.000 DWT dan general cargo untuk dapat mengakomodir kapal sebesar 10.000 DWT, kegiatan bongkar muat barang, peti kemas, curah serta penyediaan dan pelayanan jasa terkait kepelabuhanan lainnya sesuai dengan Penyelenggaraan Proyek KPBU

Agus menilai pengembangan Pelabuhan Anggrek perlu dilakukan karena kapasitas operasional dermaga saat ini sudah melampaui standar kinerja pelabuhan. Diketahui, saat ini ukuran dari kapal-kapal yang bersandar (peti kemas dan kargo) lebih besar dari kapasitas dermaga eksisting, sehingga dinilai kurang optimal.

Keberadaan pelabuhan ini juga ditargetkan dapat mendukung konektivitas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gopandang di Gorontalo. Nantinya, Pelabuhan Anggrek diharapkan dapat berfungsi sebagai penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan, serta simpul distribusi, produksi, dan konsolidasi.

Tak hanya itu, pengembangan Pelabuhan Anggrek juga diharapkan dapat mengembangkan produktivitas dan juga dapat menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Kabupaten Gorontalo Utara dan sekitarnya.

Sebagai informasi, Pelabuhan ini terletak di utara Sulawesi yang memiliki konektivitas dengan negara timur jauh seperti Jepang, Korea, China, dan Hong Kong. Dalam pengembangannya, Kemenhub mengajak pihak investor swasta untuk berkolaborasi. Tak hanya untuk mengembangkan pelabuhan saja, tetapi juga untuk kepentingan kawasan sekitar (hinterland).

(ncm/hns)