Keras! Faisal Basri Kritik Proyek Kereta Cepat JKT-BDG di Bawah Rata-rata Dunia

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 09 Okt 2021 11:30 WIB
Ekonom dan politikus
Keras! Faisal Basri Kritik Proyek Kereta Cepat JKT-BDG di Bawah Rata-rata Dunia
Jakarta -

Ekonom Senior Faisal Basri mengkritik proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya panjang rute yang dibuat di Indonesia tidak sesuai dengan rata-rata kereta cepat di dunia.

"Kereta cepat, rata-rata seluruh dunia rata-rata 500 km rutenya. Ini cuma 100 km, (mungkin) juga tidak sampai. Jadi tidak bisa kereta cepat itu berjalan terus berhenti. Rusaklah keretanya," katanya dalam webinar Kemenhub secara virtual, dikutip Sabtu (9/10/2021).

Kemudian, dia juga menyentil dengan mempertanyakan apakah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini sebuah proyek kereta atau proyek properti.

"Ini proyek properti atau proyek kereta, karena di ujung Bandung itu Summarecon lewat Walini, ada Lippo Group juga," tambahnya.

Selain kereta, Faisal juga mengkritik transportasi lain. Dia bercerita bagaimana kacaunya pelabuhan di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Karena menurutnya, letak pelabuhan itu dekat dengan Pelabuhan Belawan.

"Itu terlalu dekat dengan Belawan lantas di bikinlah design Belawan Domestik, Kuala Tanjung Internasional, tapi nggak laku. Nggak laku di createlah proyek Kuala Tanjung itu ramai, namanya Sumatra Food Estate. Jadi untuk menutupi kesalahan desain di create sesuatu yang tambah kacau," tuturnya.

Faisal juga mengkritik proyek KA Trans Sulawesi. Menurutnya, di Sulawesi lebih sosok dengan kapal Ro-Ro yang beroperasi 24 jam.

"Lagi satu KA Trans Sulawesi itu keblinger, karena yang bagus di Sulawesi itu namanya Ro-Ro yang jalan 24 jam karena Sulawesi cantik, jadi nggak cocok untuk kereta api," ungkapnya.

Atas semua masalah yang disebutkan Faisal mengenai proyek transportasi, Faisal khawatir setelah Presiden Joko Widodo selesai menjabat banyak proyek yang mangkrak.

"Ini semua kalau kita biarkan kasihan Pak Jokowi. Jadi Pak Jokowi nanti selesai banyak proyek mangkrak. Dicaci makin dengan rezim penggantinya," tutupnya.

(fdl/fdl)