Setahun Lebih Dikandangkan, Apa Kabar Skytrain Bandara Soetta?

a - detikFinance
Selasa, 16 Nov 2021 12:22 WIB
Skytrain Bandara Soekarno-Hatta telah beroperasi. Perpindahan traveler dari Terminal 1 hingga Terminal 3 pun jadi lebih mudah.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Automated People Mover System (APMS) atau Skytrain di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sudah lama tidak beroperasi. Sejak setahun lebih terakhir, kereta layang yang menelan biaya Rp 950 miliar itu 'dikandangkan' dan masih belum ada tanda-tanda akan kembali dioperasikan.

Hal ini dibenarkan oleh VP Corporate Communication PT Angkasa Pura II (Persero), Yado Yarismano.

"Memang betul untuk saat ini skytrain masih belum beroperasi. Penonaktifan sementara memang salah satu inisiatif operasional yang dilakukan dalam rangka efisiensi operasional bandara Soekarno-Hatta," katanya kepada detikcom, Selasa (16/11/2021).

AP II memilih menonaktifkan kereta layang pertama Indonesia tersebut karena situasi pandemi yang memukul bisnis perseroan. Masih rendahnya jumlah traffic di bandara Soetta menjadi salah satu pertimbangan kereta layang masih 'dikandangkan'.

"Saat ini juga terminal yg beroperasi masih dua terminal, yaitu terminal dua dan terminal tiga. Dan untuk transportasi antar terminal ini kami sediakan shuttle bus untuk sarana transportasi antar terminal," jelasnya.

Dalam catatan detikcom, penonaktifan skytrain Bandara Soekarno-Hatta telah berlangsung sejak awal pandemi. Artinya sudah nyaris dua tahun kereta yang didatangkan dari Korea Selatan tersebut tak lagi beroperasi. Saat itu pihak Angkasa Pura II bilang ini dilakukan sebagai bentuk efisiensi mengingat penumpang turun akibat pandemi COVID-19.

Pasalnya skytrain membutuhkan biaya operasi yang tinggi. Terlebih saat ini terminal yang beroperasi di Bandara Soetta hanya terminal 2 dan 3.

Sebagai informasi, skytrain bandara Soetta mulai beroperasi sejak September 2017. Proyek ini menghabiskan biaya Rp 950 miliar yang seluruhnya bersumber dari kas PT Angkasa Pura II.

Rinciannya, untuk pengadaan rangkaian kereta skytrain serta teknologinya, AP II setidaknya merogoh kocek hingga Rp 530 miliar. Biaya tersebut sudah termasuk tiga rangkaian kereta yang didatangkan dari perusahaan asal Korea Selatan, Woojin Industrial System Co Ltd.

Sementara itu, untuk pengadaan infrastruktur seperti lintasan dan terminal yang dikerjakan oleh PT Wijaya Karya Tbk dan PT Indulexco, AP II harus mengeluarkan dana hingga Rp 420 miliar.

(eds/eds)