42 Bendungan Rampung, Brantas Abipraya Tengah Garap 15 Proyek Lagi

Angga Laraspati - detikFinance
Rabu, 16 Mar 2022 21:11 WIB
Bendungan
Foto: dok. Brantas Abipraya
Jakarta -

Brantas Abipraya telah merampungkan 42 paket bendungan di tahun 2021. Terbaru, BUMN konstruksi ini baru saja merampungkan Bendungan Multifungsi Bintang Bano di NTB.

"Januari ini bendungan kami juga baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo yaitu Bendungan Multifungsi Bintang Bano yang terletak di Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ini merupakan bendungan terbesar di NTB," ujar Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya Miftakhul Anas dalam keterangan tertulis, Rabu (16/3/2022).

Anas menjelaskan bendungan ini nantinya dapat membendung aliran Sungai Brang Rea dengan total kapasitas tampung 65,84 juta m3 dan luas genangan 277,52 ha. Bendungan ini juga mampu mengairi lahan seluas 6.695 ha, untuk mendukung pertanian di Sumbawa Barat.

Pembangunan bendungan Multifungsi Bintang Bano dinilai sangat diperlukan dalam pengendalian banjir ulangan 25 tahun di Taliwang. Pasalnya, bendungan yang termasuk dalam salah satu proyek strategis nasional (PSN) ini dapat mereduksi banjir sekitar 22 persen atau setara 647 m3/detik.

Tak hanya itu, bendungan ini juga dapat menghasilkan air baku sebesar 555 liter/detik. Di samping itu, kehadirannya juga memberi manfaat untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) sebesar 8,8 Megawatt.

Anas menuturkan bendungan yang dibangun Brantas Abipraya untuk menyukseskan program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah, serta mereduksi banjir. Selain Bendungan Multifungsi Bintang Bano, saat ini Brantas Abipraya juga tengah merampungkan 15 paket pekerjaan pembangunan bendungan.

Beberapa di antaranya adalah Bendungan Bener yang terletak di Purworejo-Jawa Tengah yang bakal menjadi bendungan tertinggi di Indonesia, Bendungan Semantok di Nganjuk, Jawa Timur yang nantinya akan menjadi bendungan terpanjang se-Asia Tenggara, serta Bendungan Ciawi di Jawa Barat yang merupakan bendungan kering pertama di Indonesia.

Tak hanya itu, Brantas Abipraya berkontribusi dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru dengan merampungkan Bendungan Sepaku Semoi di Kalimantan Timur (Kaltim).

Selain memberi nilai tambah untuk daerah sekitar, bendungan dapat menjadi jawaban dari climate change atau perubahan iklim yang dihadapi saat ini. Perubahan iklim juga membuat terjadinya kekurangan air dan bencana banjir ketika curah hujan yang tiba-tiba tinggi.

Tak hanya membesut bendungan-bendungan dengan infrastruktur, lewat anak usahanya yaitu Brantas Energi (BREN), Brantas Abipraya turut mendukung pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia melalui pembangunan dan pengoperasian beberapa PLTM dan PLTS.

Adapun beberapa PLTM yang telah dibangun dan beroperasi adalah PLTM Padang Guci-1 3X2 MW, PLTM Sako-1 2X3 MW, PLTM Padang Guci-2 2X3,5 MW dan PLTS Gorontalo sebesar 2 MWp. BUMN konstruksi ini lewat BREN menargetkan mampu mengoperasikan PLTM Maiting Hulu-2 di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, pada tahun ini.

Brantas Abipraya juga berkolaborasi bersama PT Wika Industri Energi membangun PLTS terapung di bendungan-bendungan Barang Milik Negara (BMN) pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Anas menjelaskan pembangunan bendungan dan pembangkit listrik menjadi sangat penting dan merupakan bukti Brantas Abipraya mempersiapkan infrastruktur guna mendukung pemerintah dalam mengatasi tantangan perubahan iklim global.

"Melalui bendungan kita dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memudahkan masyarakat sekitar dalam memperoleh air bersih yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, serta meningkatkan perekonomian masyarakat," imbuh Anas.

(prf/hns)