Biaya Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Makin Bengkak, Siapa yang Tanggung?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 21 Jun 2022 17:07 WIB
Pekerja memasang rel di Depo Kereta Api Cepat Jakarta Bandung di Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/4/2022). PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mulai memasang rel kereta cepat di Depo Tegalluar dengan panjang 500 meter. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Jakarta -

Biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung bakal makin bengkak. Namun, nilai pembengkakan (cost overrun) belum final dan akan diputuskan Komite Kereta Cepat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

"Cost overrun itu nanti yang memutuskan Komite Kereta Cepat," kata Presiden Direktur PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi di proyek tunnel 2 Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Purwakarta, Selasa (21/6/2022).

Dwiyana menjelaskan, saat ini ada beberapa angka terkait pembengkakan biaya itu. Sebutnya, sebesar US$ 1,675 miliar atau setara Rp 24,79 triliun (asumsi kurs Rp 14.800) yang disampaikan KCIC pada November 2021 lalu. Kemudian, ada juga angka berdasarkan kajian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebesar US$ 1,176 miliar (Rp 17,40 triliun). Selanjutnya, ada potensi pembengkakan dari sisi pajak dengan nilai Rp 2,3 triliun.

Lanjut Dwiyana, jika Komite telah memutuskan angka pembengkakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, maka pemerintah Indonesia dan China akan berdiskusi untuk mencari solusi menutup biaya tersebut.

"Misal diputuskan US$ 1,176 miliar atau US$ 1,675 miliar setelah diputuskan oleh Komite Kereta Cepat, akhirnya nanti pihak pemerintah Indonesia dan pemerintah Tiongkok akan berembuk. Ini US$ 1,675 miliar dari mana ini sumber pembiayaan," katanya.

Dia mengatakan, dari situ nantinya akan muncul sejumlah opsi. Sebutnya, misal akan didanai dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd selaku pemegang saham.

"Atau kalau melihat situasi COVID seperti ini sementara 4 BUMN, Indonesia lagi recovery, ya kemungkinan perlu bantuan dari CDB (China Development Bank) sebagai lender," katanya.

"Katakanlah idealnya kita inginnya sama dengan struktur pembiayaan awal di mana CDB membiayai 75% dari pembiayaan, termasuk untuk apabila ada penambahan biaya di proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung," sambungnya.

Untuk diketahui, struktur pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung terdiri 75% dari CDB. Kemudian, sebanyak 25% ekuitas dari PSBI dan Beijing Yawan.



Simak Video "Wujud Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Diklaim Bisa Ngebut 350 Km/jam!"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/das)