ADVERTISEMENT

Duit KCIC Menipis, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terancam Molor Lagi

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 07 Jul 2022 07:25 WIB
Pekerja memasang rel di Depo Kereta Api Cepat Jakarta Bandung di Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/4/2022). PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mulai memasang rel kereta cepat di Depo Tegalluar dengan panjang 500 meter. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung/Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Jakarta -

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) Didiek Hartantyo buka-bukaan mengenai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Penyertaan Modal Negara (PMN) harus segera cair supaya proyek ini bisa terselesaikan.

Didiek mengatakan jika PMN tidak segera cair maka penyelesaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan terlambat. Pasalnya kondisi keuangan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) semakin menipis.

"Ini yang kemarin kami tayangkan pada saat RDP di komisi VI dan disampaikan Menteri BUMN. Kemarin sudah dalam pembahasan menyeluruh dan ini akan diberikan support. Apabila ini tidak cair di 2022, maka penyelesaian kereta cepat ini akan terlambat juga," ungkap Didiek dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI, Rabu (6/7/2022).

"Karena cash flow dari KCIC itu akan bertahan mungkin sampai September, sehingga kalau ini belum turun maka cost over run ini yang harapannya selesai Juni 2023 ini akan terancam mundur," tambahnya.

Meski begitu, rencana uji coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden China Xi Jinping pada acara G20 November mendatang masih terjadwal. Masalah pada proyek KCIC ini juga bermula dari kontraktor.

"Pada 2017 kesulitan juga kemudian berjalan, 2019 keterlambatan karena pembebasan tanah ini luar biasa. Saat itu lah kemudian kita di KAI diminta masuk, namun baru dengan keluarnya Perpres 93 Tahun 2021 KAI betul-betul jadi lead sponsor KCIC," jelasnya.

Molornya proyek ini membuat biaya menjadi bengkak. Pada awal dibangun, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung diestimasi hanya US$ 6 miliar, namun saat ini berpotensi naik.

"Ini awalnya dari pembebasan lahan, yang besar dari EPC US$ 600 juta sampai US$ 1,2 juta, relokasi jalur utilisasi dan biaya financing cost. Kemudian biaya head office dan operasi," jelasnya.

Didiek menjabarkan biaya EPC mengalami kenaikan US$ 0,6-1,2 miliar, pembebasan lahan US$ 0,1-0,3 miliar, dan biaya head office dan pra operasi naik US$ 0,5-0,2 miliar.

Berlanjut pada biaya kontijensi naik US$ 0,2 miliar, financing cost naik US$ 0,2 miliar, biaya lainnya US$ 0,05 miliar, sehingga diperkirakan ada kenaikan biaya mencapai US$ 1,176-1,9 miliar.

Simak Video 'Dirut KAI Blak-blakan LRT Jabodebek Jadi Beban, Desain Nggak Benar':

[Gambas:Video 20detik]




(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT