Xi Jinping-Jokowi Batal Jajal Kereta Cepat, Cuma Pantau Lewat Zoom

ADVERTISEMENT

Xi Jinping-Jokowi Batal Jajal Kereta Cepat, Cuma Pantau Lewat Zoom

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 10 Nov 2022 07:30 WIB
Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping di Villa 14, Diaoyutai State Guesthouse, Beijing, Selasa (26/7/2022).
Presiden Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping (Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung atau KCJB dijadwalkan melakukan uji dinamis 16 November 2022. Awalnya, uji coba ini direncanakan dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden China Xi Jinping secara langsung.

Sayangnya rencana itu nampaknya akan batal. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Didiek Hartantyo mengatakan, Xi Jinping dan Jokowi hanya akan memantau uji dinamis tersebut secara virtual.

"16 November nanti akan dilakukan G20 showcase, di mana akan dilaksanakan percobaan uji dinamis dari Tegalluar sampai ke Cikopo yang kira-kira 20 km yang akan dilakukan secara online, yang nanti akan disaksikan Presiden Jokowi dan Xi Jinping dari Bali," katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (9/11/2022).

Menurut Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi, Xi Jinping batal menjajal kereta cepat Jakarta-Bandung karena jadwalnya yang padat.

"Ini masalah mengatur waktu, karena dua-duanya sibuk. Kan setelah ini ada KTT APEC di Bangkok," ujarnya di gedung DPR RI.

Oleh karena itu disiapkanlah skenario lain, yaitu memantau dynamic test secara virtual. "Sehingga untuk mempermudah semuanya kita lakukan skenario kedua. Kita lakukan streaming live dari Tegalluar, uji coba operasional kereta ke Kopo 16 km, disaksikan langsung Jokowi dan Xi dari KTT di Bali," ujarnya.

Namun, Dwiyana optimis kereta cepat Jakarta-Bandung akan beroperasi pada Juni 2023 dengan harga tiket Rp 250 ribu sesuai saran Kementerian Perhubungan. Ia yakin KCJB bisa beroperasi sesuai jadwal asalkan bengkak biaya atau cost overrun bisa tertutupi.

Berdasarkan laporan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), proyek KCJB mengalami cost overrun Rp 21 triliun lebih. Total biaya proyek yang sebelumnya diperkirakan US$ 6,071 miliar menjadi US$ 7,5 miliar.

Bengkak biaya ini akan ditanggung Konsorsium Indonesia, Konsorsium China, serta pinjaman dari China Development Bank (CDB). Namun, ada perbedaan pendapat tentang hitungan cost overrun antara Indonesia dan China.

Dwiyana menyebut bengkak biaya proyek KCJB versi Indonesia adalah Rp 21 triliun, sedangkan versi China adalah US$ 980 juta atau sekitar Rp 15 triliun.

Adapun kereta cepat diperkirakan baru akan balik modal dalam 38 tahun ke depan setelah operasionalnya. Dengan perhitungan tersebut, artinya Indonesia baru bisa balik modal sekitar tahun 2061.

Terkait hal ini Dwiyana Slamet memberikan penjelasannya. Menurutnya, estimasi itu belum memperhitungkan pendapatan lain, seperti dari pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD).

"38 tahun itu dihitung oleh konsultan financial model dan review Feasibility Study, sudah memperhitungkan 3 tahun itu dengan tarif 250 ribu (rute) terjauh. Dan tidak lagi memperhitungkan revenue dari TOD" jelasnya.

Dwiyana menjelaskan dana yang dimiliki KCIC saat ini fokus menyelesaikan konstruksi. Namun, Dwiyana menyebut lahan yang dimiliki KCIC akan dimanfaatkan dan dikembangkan.

Simak juga Video: Jokowi-Xi Jinping Bakal Saksikan Uji Coba Kereta Cepat

[Gambas:Video 20detik]




(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT