Pemerintah Malaysia mulai menerapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menangani dampak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, salah satunya meningkatkan pengamanan di pelabuhan. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi gangguan logistik imbas ditutupnya Selat Hormuz.
Pemerintah Malaysia telah bertemu dengan sejumlah operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan otoritas industri maritim untuk membahas langkah mitigasi gangguan logistik. Pertemuan tersebut langsung dihadiri oleh Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke.
"Berdasarkan pengalaman masa lalu, krisis seperti ini sering menyebabkan kemacetan pelabuhan di negara kita karena kontainer yang ditujukan ke daerah konflik tertinggal oleh perusahaan pelayaran, yang kemudian mempengaruhi operasi impor dan ekspor sehari-hari dan selanjutnya pabrik-pabrik kita," kata Loke dikutip dari Bernama, Selasa (10/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, Selat Hormuz terletak tepat di antara Iran dan Oman. Selat Hormuz menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia dengan porsi sekitar seperlima konsumsi global.
Loke mengatakan, pemerintah akan memfasilitasi pemindahan kontainer kosong dari area pelabuhan untuk mencegah kemacetan. Selain itu, manajemen pelabuhan juga akan melakukan inspeksi secara menyeluruh untuk memastikan kontainer tanpa tujuan tidak dibongkar di pelabuhan Malaysia.
Selain itu, Loke mengatakan konflik Timur Tengah dapat meningkatkan biaya bahan bakar di pelabuhan lokal. Pemerintah Malaysia juga telah membangun kerja sama dengan sejumlah pihak untuk membantu kapal-kapal nasional yang terdampar di Timur Tengah.
"Dalam menghadapi krisis nasional, semua pemangku kepentingan harus bekerja sama dan saling mendukung untuk melindungi kepentingan negara," pungkas Loke.
(ahi/ara)










































