Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mempercepat penertiban perlintasan sebidang di semua titik. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta, usai insiden maut di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) kemarin.
"Sebagaimana arahan Presiden, kami akan melakukan penertiban di lintasan sebidang. Kita segerakan dengan mengatur skala prioritas," kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) per 30 April 2026, Dudy mengatakan saat ini terdapat total 4.046 perlintasan sebidang di sepanjang jalur aktif di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, setidaknya terdapat 1.903 titik atau sekitar 47% perlintasan sebidang yang tidak dijaga.
"Pemerintah telah menentukan titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang. Ada 10 lokasi prioritas jangka pendek dan 50 lokasi prioritas jangka menengah," ujarnya.
Menurutnya penentuan titik prioritas perbaikan ini dilakukan berdasarkan kriteria seperti pernah terjadi kecelakaan atau insiden nyaris tabrakan (near miss) secara berulang; jumlah kendaraan yang melintas; frekuensi perjalanan kereta api tinggi (single/double track); kondisi lingkungan perlintasan yang berada di posisi tikungan tajam, tanjakan/turunan dan jarak pandang terhalang; perlintasan yang dinilai tidak terjaga, minimnya fasilitas keselamatan.
"Peningkatan sarana dan prasarana keselamatan perlintasan jalan akan melibatkan berbagai pihak terkait seperti Pemerintah Daerah, Ditjen Bina Marga, serta PT KAI," jelas Dudy.
Di luar itu, Dudy mengimbau masyarakat untuk tidak membuat perlintasan tanpa izin atau tidak membuka kembali perlintasan liar yang sudah ditutup oleh KAI. Sebab lintasan-lintasan liar yang dibuat sendiri oleh masyarakat dapat menghalangi visibility masinis yang menjalankan kereta.
Sedangkan perlintasan resmi yang dibangun sudah memenuhi berbagai syarat keamanan dan keselamatan. Selain menggunakan portal resmi, perlintasan tersebut juga dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi kedatangan kereta api dan memicu penutupan palang pintu secara otomatis.
"Masyarakat juga kami imbau untuk tetap mematuhi rambu-rambu yang ada di perlintasan kereta api dengan tidak menerobos palang pintu yang telah tertutup," pungkasnya.
(igo/ara)