×
Ad

Blok M, Kota Tua, dan Misi MRT Hidupkan Sudut-sudut Jakarta

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2026 23:22 WIB
Stasiun MRT Blok M.Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Jakarta bergerak nyaris tanpa jeda. Bunyi langkah para pekerja di pagi hari, aktivitas perdagangan, hingga malam yang berganti dengan hiruk-pikuk kuliner dan hiburan mengisi denyut Ibu Kota.

Namun, padatnya gedung dan aktivitas manusia belum tentu menandakan sebuah kawasan benar-benar hidup. Dari bisingnya tepi jalan raya hingga ruang-ruang yang sunyi di sekitar simpul transportasi, sebagian sudut Jakarta masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya tergali.

Di baliknya, ada peluang untuk menciptakan tempat yang bukan hanya dilalui, tetapi juga mengundang orang untuk berhenti, berkumpul, dan beraktivitas. Caranya bukan sekadar membangun ruang baru, tetapi menemukan dan menguatkan soul atau jiwa yang telah melekat pada kawasan, lalu memberinya ruang untuk tumbuh.

Pendekatan inilah yang dikenal sebagai placemaking. Sederhananya, ruang tidak hanya dibangun untuk digunakan, tetapi dihidupkan melalui aktivitas, komunitas, dan identitas yang membuat orang memiliki keterikatan dengan tempat tersebut.

"Sebetulnya ini menggambarkan bagaimana sebuah kawasan itu bisa dihidupkan kembali. Tidak hanya secara bisnis, secara aktivitas, tapi juga secara mendukung kegiatan masyarakat perkotaannya," kata Kepala Divisi Business Planning & Expansion Division MRT Jakarta, R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo dalam acara MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, ditulis Rabu (16/9/2026).

Bagi MRT Jakarta, upaya menghidupkan sebuah kawasan tidak berhenti pada pembangunan stasiun. Ruang-ruang di sekitarnya juga menjadi bagian dari perjalanan, sekaligus peluang untuk menciptakan aktivitas dan membentuk karakter sebuah tempat.

Karena itu, pendekatan placemaking mulai dibawa ke sejumlah kawasan di sekitar stasiun MRT. Pada titik inilah stasiun tak lagi berdiri sendiri. Ia menjadi pintu masuk menuju kawasan yang punya kehidupan dan identitasnya masing-masing.

'Negara Blok M'

Blok M menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan tersebut diterapkan. Kawasan ini terus berkembang, tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai pusat kuliner dan lifestyle. Identitasnya dibangun sebagai urban youth hub bagi anak muda, sekaligus membawa unsur nostalgia bagi generasi terdahulu.

Beragam komunitas dan kegiatan yang tumbuh di dalamnya turut membentuk karakter Blok M. Dari sinilah muncul gambaran tentang 'Negara Blok M', sebuah kawasan yang tak lagi sekadar menjadi titik perpindahan penumpang, tetapi punya alasan untuk didatangi dan dinikmati.

Di media sosial, Blok M menunjukkan berbagai wajah, mulai dari tempat makanan viral, pusat warga skena, hingga lokasi pertunjukan musik yang ramai didatangi anak muda. Aktivitas yang menghidupkan kawasan terus bergerak dan berinovasi.

"Prinsip utamanya adalah aktivitas-aktivitas tadi, seperti event, kegiatan, ataupun kegiatan-kegiatan komunitas yang memang di situ hidup terus, nggak pernah mati. Memang konsepnya dibuat seperti itu supaya vibrant, hidup terus, nggak pernah capek untuk berinovasi yang baru," ujar Samuel.

Samuel mengatakan, konsep placemaking dan Transit Oriented Development (TOD) saling berkaitan. Namun, placemaking tidak berhenti pada pembangunan fisik, melainkan juga mencakup akses dan keterhubungan, kenyamanan dan citra, aktivitas, serta interaksi sosial di dalamnya.

Blok M pun kini bukan sekadar kawasan untuk mencari makanan di sekitar stasiun. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, berburu makanan viral, bertemu teman, atau bahkan sekadar untuk duduk santai sembari menikmati keramaian Ibu Kota.

Dari Keramaian ke Perputaran Ekonomi

Namun, keberhasilan sebuah kawasan tidak hanya diukur dari seberapa ramai orang yang datang. Di balik geliat aktivitas tersebut, ada perputaran ekonomi yang menjalar ke bisnis dan kawasan di sekitarnya.

Ketika sebuah acara digelar, misalnya, pengunjung tidak hanya menghabiskan uang di lokasi acara, tetapi juga dapat makan di restoran sekitar, berbelanja di toko terdekat, hingga menginap di hotel apabila datang dari luar kota.

"Ada penelitiannya di Stanford University itu mereka bilang di saat ada kegiatan ekonomi kreatif atau biasanya disebutnya MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition), multiplier effect itu bisa sampai 4-5 kali dari nilai ekonomi di kegiatannya sendiri. Jadi kalau misalkan kegiatannya itu Rp 10 miliar, sebetulnya multiplier efeknya itu bisa sampai Rp 40-50 miliar," kata Samuel.

Artinya, ketika sebuah ruang berhasil menarik orang untuk datang dan beraktivitas, manfaatnya tidak berhenti di dalam ruang tersebut. Pergerakan manusia ikut membuka peluang bagi usaha-usaha lain di sekitarnya untuk mendapatkan bagian dari geliat kawasan.

Skala dampaknya pun dapat menjadi lebih besar ketika kegiatan yang digelar berskala internasional, seperti misal konser musisi luar negeri di Gelora Bung Karno (GBK). Menurut Samuel, multiplier effect dari kegiatan semacam itu dapat mencapai tujuh hingga delapan kali dari nilai ekonomi kegiatan utamanya.

Kota Tua, Jiwa yang Sudah Ada

Blok M menunjukkan bahwa menghidupkan kawasan bukan berarti membuatnya sekadar ramai. Ada karakter, komunitas, dan aktivitas yang membuat orang punya alasan untuk datang. Namun, placemaking bukan berarti membuat setiap kawasan memiliki wajah yang sama, karena setiap tempat punya karakter dan cerita yang berbeda.

Jika Blok M tumbuh dengan denyut anak muda dan kultur urban, Kota Tua memiliki jiwa yang lahir dari sejarah dan identitas heritage-nya. Di sinilah tantangan berikutnya: bagaimana menghidupkan kawasan tersebut dengan menghadirkan aktivitas baru, tanpa menghilangkan karakter yang sudah melekat di dalamnya.

"Area kota tua itu akan kami revitalisasi juga. Mudah-mudahan tetap hidup dengan mempertahankan identitas heritage-nya. Jadi heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu nggak hilang, tapi tetap area-nya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya," kata Samuel.

Di beberapa area, unsur yang lebih modern atau futuristik juga akan dihadirkan, mengingat kawasan Glodok sejak dulu dikenal sebagai pusat elektronik. Dua karakter berbeda itu nantinya akan dipertemukan, tanpa menghilangkan identitas heritage yang menjadi bagian dari wajah Kota Tua.

Pengembangan placemaking di Kota Tua nantinya akan berjalan seiring dengan pembangunan MRT menuju Kota Tua. Samuel belum merincikan kapan revitalisasi kawasan akan dimulai, mengingat saat ini pembangunan masih berfokus pada penyelesaian Stasiun Thamrin dan Monas yang ditargetkan beroperasi pada Desember 2027.

Sementara itu, dalam rencana besarnya, jalur MRT North-South ditargetkan tersambung hingga Kota Tua pada 2029 mendatang. Artinya, geliat baru Kota Tua masih menunggu perjalanan panjang, bukan hanya untuk menghadirkan jalur MRT, tetapi juga untuk menemukan cara agar ruang yang kaya sejarah itu kembali menjadi tempat yang hidup.

Simak juga Video 'Nyobain Naik LRT dari Manggarai ke Kelapa Gading Cuma Bayar Rp 8':




(hns/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork